I want a friend

Saya ingin share sebuah puisi karya Eka Budianta (エカ・ブディアンタ・詩人・作家、1956 年生まれ), my senior di IKAJA (Ikatan Alumni Japanologi) UI yang cocok untuk saya saat ini. Saya ingat pernah email langsung Mas Eka minta ijin pemuatan puisinya dalam acara radio waktu lengsernya alm Pres Suharto back in 1998. Mas Eka banyak berkecimpung dalam environmental issues, just like my father.

Dan….. what a blessing. Ternyata papa bisa menghubungi Mas Eka, dan janjian untuk bertemu bersama hari ini tanggal 31 Juli 2008. Namun karena Mas Eka buru-buru juga, cuman sempat sebentar di rumah saya. Wow…. seneng sekali bisa bertemu Mas Eka, meskipun baru pertama kali, serasa sudah kenal lama. Saya senang sekali Mas Eka masih ingat nama saya…(Mungkin dari milis Ikaja ya Mas… or karena nama bapak saya yang aneh hehehe).

Anyway, meskipun Mas Eka angkatannya 11 th di atas saya, kami bercakap-cakap tentang suatu fenomena aneh yang terdapat di Indonesia, yaitu kenyataan bahwa “tidak ada kesadaran tentang waktu”. Semisal cerita Urashimataro di Jepang, yang dia menghilang selama 300 (Or 400 tahun) dan kembali, tidak ada (or kami belum menemukan) cerita rakyat Indonesia yang menyatakan suatu “waktu”. That means,…. memang orang Indonesia tidak mementingkan waktu. No sense of time. (bisa jadi bahan disertasi nih hehhehe)

Saya juga diberi hadiah sebuah buku karangan Mas Eka, yaitu sebuah biografi dari Pak Rooseno. Domo Arigatougozaimasu Sempai. Dan kalau Mas Eka baca blog ini, maafkan kalau mungkin ada kata-kata yang salah ya. Kokoro kara sonkei shiteimasu.Kansha wo moushiagemasu.

Aku ingin seorang teman

Aku ingin seorang teman
yang senyumnya bertahan
dalam gemuruh kota dan sunyi desa
Aku ingin seorang teman
yang tidak putus asa di muim kemarau
dan tidak sombong di musim hujan

Aku ingin seorang teman
yang nafasnya tetap teratur
dalam keributan dan keheningan
Aku ingin seorang teman
yang bisa memisahkan urusan pribadi
dan kepentingan banyak orang

Kalau boleh aku ingin memilih teman
yang tetap berpikir jernih
di dalam keruhnya zaman
yang sanggup mendengar
pujian maupun ejekan
yang tetap punya harapan
pada saat orang lain ketakutan
yang tetap bersih dan sehat
pada saat semua jadi jorok dan sakit-sakitan

Tapi aku tahu semua teman bisa pergi
untuk sementara atau selamanya
Seorang teman bisa berkelit,
bisa jadi pikun atau pura-pura lupa
Sementara aku sendiri juga bisa mati
sebelum rumah persahabatan
selesai kubangun untuknya

Karena itu aku ingin seorang teman
yang bersedia tinggal di hati-kecilku
dan memberikan ruang di dalam hatinya.

Jakarta, 11 Juli 2003
by Eka Budianta
dalam “50 Puisi Pilihan -50 Selected Poems HADIAH SEORANG AYAH A Father’s gift”
ISBN 979-3778-40-7

7 gagasan untuk “I want a friend

  1. Hery Azwan

    “Aku ingin seorang teman
    yang bisa memisahkan urusan pribadi
    dan kepentingan banyak orang”

    Ini kayaknya bukan hanya teman ideal, tapi juga syarat pejabat ideal.

    hehehe, si abang langsung aja pikir politik hihihi

    Balas
  2. Lala

    yap, Bang… syarat pejabat ideal tuh.. 🙂

    eniwei,
    itu puisi yang lugas ya, EmiChan. Langsung to the point. Definisi seorang teman yang paling esensi buat seorang Lala adalah: stay, however impossible it is to do so.
    Dan fortunately, Gang Gila adalah orang-orang semacam itu… syukurlah.. I already have it…

    So Sistah,
    do you have that kind of friend?

    Bersyukurlah kamu ada Gang Gila la… aku pengen jadi membernya juga tapi jauuuuuh la yaw… If you ask me then ….. no I dont have that kind of friend (in the term of “friend”)….still searching.

    Balas
  3. nh18

    HHHmmm … Lagi … emiko berpuisi di blog publiknya …
    Walaupun kali ini puisi dari orang lain …
    Puisinya bagus …

    BTW paragraf terakhir kok di Bold Em …
    hhmmm … ada apa nih our Wonder Woman …

    Hai EM

    bagian yang dibold adalah yang essensial menurut saya mas…
    Hai juga mas

    Balas
  4. npsasaki

    Selamat siang, Imelda-san!
    Saya pernah membaca penggalan puisi Bapak Eka Budianta yang berjudul”Kalau Bukan Penyair, Lalu Siapa? “.
    Sangat mengesankan dan langsung menulis di weblog saya
    mengenai buku “Jogja, 5.9 Skala Richter(antologi seratus hari gempa, seratus penyair, seratus puisi)”.
    http://gadogado.exblog.jp/4525595/

    Kalau Bukan Penyair, Lalu Siapa? (Eka Budianta)

    Penyair itu pura-pura tidak tahu
    ketika kekasihnya tak berkabar
    Ia ingin menjadi buta dan tuli selamanya
    Tak mau mendengar dan lihat kekasihnya mati
    Bersama ribuan korban gempa bumi

    Menurut homepage Bapak Eka Budianta, ada karya(puisi?)yang sudah diterjemahkan ke bahasa Jepang. Saya belum bisa mencarinya.

    Iya bu, saya juga baca puisi itu… Kalau bukan penyair, Lalu siapa…. itu juga kena untuk saya. Dan mungkin saya ingin ganti “Kalau bukan saya, lalu siapa….” tapi apakah itu tidak berlebihan…
    Bukunya yang saya kutip ada bahasa Inggrisnya tapi saya belum tahu tentang bahasa Jepang. Nanti saya coba tanyakan ya bu.

    Balas
  5. krismariana

    Mbak, puisinya manis sekali. Sama dg Mbak EM, paragraf terakhir yg dicetak tebal itu merupakan hal yang penting a.k.a yg sangat mengena bagiku. (Kenapa aku jadi melo begini ya jadinya?)

    Balas
  6. nique

    “Kalau boleh aku ingin memilih teman
    yang tetap berpikir jernih
    di dalam keruhnya zaman
    yang sanggup mendengar
    pujian maupun ejekan”

    andai ku bisa mengirim penggalan puisi ini untuk seorang sahabat yang telah terentang jarak di antara kami 🙁

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *