Padi dan Masyarakat Jepang

25 Jul
Sudah pernah makan nasi Jepang? Hmmm coba deh sekali-sekali…. or datang deh ke Jepang kalau ada kesempatan. Rasanya nasi Jepang tidak ada duanya. Lembut dan manis. Dua minggu saya jalan-jalan di Jepang (waktu pertama kali study tour ke Jepang) , bisa naik 2 kg. Itu jalan-jalan, bagaimana kalau tinggal? Jadi sekarang syaa tidak mau banyak makan nasi… (tapi sake….ya sama aja itu kan terbuat dari beras juga hihihi). Jika mau melihat cerita ttg beras Jepang ini, silakan tonton acara di TV yang merupakan kerjasama Japan Foundation dan TVRI.
Padi & Masyarakat Jepang

Sungguh menarik mengetahui apa yang dilakukan masyarakat Jepang dengan padi. Anda dapat mengenal segala sesuatu tentang Padi dan Kehidupan Masyarakat Jepang melalui tayangan film dokumenter menarik di TVRI. Tayangan ini diselenggarakan atas kerjasama The Japan Foundation dan TVRI.

setiap hari Rabu, Kamis dan Jumat pk. 16:30-17:00 WIB di TVRI.

6 Agustus : The Life Cycle of Rice & Rice Cultivation around the World.

8 Agustus : Preparing the Paddy & Water : The Rice Paddy’s Font of Life

27 Agustus : Creature of the Paddy & The War against Pests

28 Agustus : The History of Rice Cultivation in Japan & Selective Rice Breeding

3 September : Let’s Eat Rice & Rice Dishes Around the World

4 September : Animals Brace Themselves for Winter & Making Rice Cake

5 September : A Rice Farmer’s Challenge & Environmentally Friendly Rice Cultivation

The Japan Foundation, Jakarta merupakan lembaga administrasi independen yang didirikan tahun 1974 dengan nama Pusat Kebudayaan Jepang untuk mempromosikan kegiatan pertukaran budaya antara Jepang-Indonesia.

Jam buka :
Kantor : Senin-Jumat 08:30-16:30
Perpustakaan ( terbuka untuk UMUM ), menyediakan sekitar 29,000 buku berbahasa Indonesia,Inggris dan Jepang.
Senin-Jumat : 09:30 – 18:00
Sabtu : 09:00 -12:30 ( minggu ke 2&4 TUTUP )
Rabu, Minggu dan hari besar TUTUP.

The Japan Foundation, Jakarta
Summitmas I lantai 2-3, Jl.Jend.Sudirman – Jakarta Selatan
T.021-520-1266 F.021-525-5159 | http://www.jpf.or.id

Rajanya buah-buahan

25 Jul

Di Jepang ada istilah ini….果物の王様 Kudamono no Ousama. Rajanya buah-buahan. Dan itu adalah Durian. Mungkin sedikit orang Indonesia tahu istilah ini, tapi jika Anda berada di Jepang, pasti akan mendengar istilah ini. Kenapa Durian dianggap Rajanya buah-buahan. Katanya sih karena RASA Manis nya yang kuat, Tapi karena baunya yang menyengat banyak orang Jepang tidak bisa membawa buah ini ke dalam mulutnya. Suami saya tidak bisa, dan ternyata Riku juga tidak bisa. Saya sendiri sudah menjadi alergi pada Durian, gatal hebat di leher bagian dalam jika memakannya. Tapi…ibu mertua saya suka sekali. Dan satu peringatan (pemerintah) yaitu jangan makan durian jika sedang minum alkohol, karena bisa menyebabkan kematian. Dan ini bukan tabu saja, mungkin (hipotesa saya) kadar gula yang ada dalam tubuh bisa naik tiba-tiba….

(pertamanya sih semangat…di foto terakhir mulai terlihat dia tahan-tahan tuh untuk keluarin heheheh)

Saya tidak tahu siapa yang pertama kali memastikan bahwa Durian adalah Rajanya buah-buahan, dan Manggis sebagai Ratunya. Tentu bagi setiap orang, anggapan Raja dan Ratu buah-buahan untuk dirinya akan berbeda. Bagaimana dengan Anda? Kalau saya…. Semangka (makanya bisa jadi induk semang heheheh) dan Longan atau Pear Korea. FYI, saya alergi buah rambutan, manggis dan durian. (Dulu sempat alergi kismis, tapi sekarang sudah tidak apa-apa)

Memorabilia #1

25 Jul

Beginilah kalau hidup sudah cukup lama di dunia. Pasti ada barang-barang atau merek-merek yang menyimpan kenangan masa kecil. Dalam liburan saya kali inipun, saya banyak menemukan barang-barang yang mempunyai arti atau kenangan tersendiri. Memang akhirnya pasti dibilang “imelda pasti buntutnya makanan”, mungkin ya, tapi tentu saja ada yang lain dong.

Nah kali ini saya mau tulis tentang dua snack, satu dari Belanda dan satu dari Indonesia.

Permen Hitam ini dari dulu selalu ada di rumah saya. Biasanya Oleh-oleh dari Belanda, dengan variasi bentuk dan sedikit variasi rasa garam/warna. Namanya DROP tapi saya heran juga, kok bisa-bisanya orang Belanda suka dengan rasa yang lumyan aneh begini. Mungkin untuk membayangkannya, Anda tentu tahu OBH (Obat Batuk Hitam)…nah rasa itu dipadatkan menjadi sebuah permen gummy. Dan waktu saya tanyakan pada ibu saya, ternyata memang permen ini punya fungsi sebagai pastiller, pengurang batuk. Meskipun rasanya aneh, kalau sudah lama tidak lihat dan tiba-tiba muncul di hadapan Anda, mungkin tak terasa tangan ini akan meraih dan memasukkan satu butir permen ini dalam mulut Anda. Dan saat itu saya teringat masa-masa kecil, kala papa membawa oleh-oleh drop, coklat verkade dan marsepein (marzipan) . Hmmm lekker.

Tidak kalah dengan oleh-oleh dari luar negeri, oleh-oleh ini juga nikmat loh. Brem cap suling. Ditulisnya sih produksi Boyolali…. tapi saya lupa papa dulu suka bawa dari mana. Mungkin oleh-oleh dari Yogya ya? Sama dengan brem putih berbentuk bulat pipih (kalau kami bilang seperti “hosti”), brem ini sering jadi penganan kecil di sore hari. Rasanya masih sama seperti dulu, tapi…..kok semakin tipis ya? Volumenya berkurang, mungkin untuk menjaga harga yang sama. Taktik perdagangan….tapi biasanya tidak begitu ketara. Mungkin karena memang sudah lama tidak lihat, perubahan itu sangat terlihat di mata saya kali ini. Tipis bo… Dan saya juga jadi teringat, sebelum pulang, saya dapat oleh-oleh Beng-Beng dari adik saya Mariko-san. Saat itu dia bilang “Mbak pasti akan kaget deh, lihat deh ukurannya”…Hmm benar juga bentuknya sih sama tapi tipis dan kecil. Benar-benar menciut deh. Untung saja rasanya tidak menciut sehingga saya masih suka.

Terima kasih atas pilihan Anda….

23 Jul

Sebuah kalimat terakhir yang masih aku hafal “Terima kasih atas pilihan Anda terbang bersama Japan Airline”. Serentetan salam dan pengumuman yang harus aku bacakan dan direkam dan sudah diputar bertahun-tahun. Aku sendiri tidak berharap untuk bisa mendengarnya kali ini, tapi ternyata masih juga diputar meski dengan volume yang lirih sekali. Sambil aku kasih tahu Riku, “Itu suara mama loh”. Ternyata masih dipakai.

Jam 5:45 pagi Gen jemput Tina dan Koko untuk kemudian langsung ke Narita, sedangkan aku dan anak-anak naik mobilnya mertua langsung ke Narita juga. Untung aku hanya membawa satu koper kecil, karena dua koper yang besar sudah menunggu di Narita (bahkan mungkin di pesawat) dan tinggal kita ambil di Cengkareng Tebura puran (hands free plan), layanan dari ABC+JAL. Proses check in lancar, meskipun aku lihat ada antrian panjang di beberapa counter JAL. Bandara saat itu boleh dikatakan sepiii sekali. Mengherankan juga. Apa akibat kenaikan harga avtur (bensin pesawat) menjadikan orang-orang Jepang memilih untuk berlibur di daerah yang dekat-dekat saja. Or ini juga menandakan resesi juga sedang  terjadi di Jepang. Entahlah aku bukan ahli ekonomi, dan tidak pernah berminat memperdalam ekonomi. Mungkin kalau mau belajar lagi aku lebih memilih Hukum daripada bidang ilmu lainnya. Wahhh kok melantur sampai hukum ya? Pesawat JAL yang kami tumpangi ini juga tidak penuh, tidak sampai separuhnya.

KKami menempati tempat duduk pertama setelah Bussiness Class, sebelah kiri dan ada bashinet, baby bed nya untuk Kai. Aku pesan child meal and baby meal. Yang mengherankan, makanan child mealnya lebih enak dan lebih cool dari yang untuk dewasa. Pudingnya puding caramel sedangkan di meal dewasa puding manggo. Saladnya Fruit Cocktail…. Duuh kan aku suka puding caramel…akhirnya tukeran deh sama Riku. Aku sambil suapin Riku karena Kai bobo, dan Riku kalau sambil menonton pasti tidak akan makan. Dia lebih pilih nonton daripada makan. Riku enjoy banget karena setiap tempat duduk ada video/game nya. Dia main terus, juga nonton Disney Channel.


Ada satu kejadian dengan Riku sehubungan dengan WC. Waktu pertama kali ke WC, dia pergi ke WC bersama aku. Kedua kalinya dia pergi sendiri dan berhasil. Good. Kemudian yang ketiga kalinya, di minta pergi sendiri lagi dan aku sedang kasih makan Kai yang sudah terbangun dari tidurnya. Sayup-sayup aku dengar suara teriakan anak-anak dua kali. Anak siapa tuh? pikirku. Ehhh tau-taunya Riku muncul dan dia bilang

“Mama tadi aku pergi ke WC yang lain, trus….. aku …. ngga bisa buka……(dia mulai nangis)… aku teriak dan pramugarinya buka…..”

Aduuuh anakku….

“OOOhhh pantesan tadi mama dengar anak teriak, itu Riku ya?”

Aku peluk dia dengan sebelah tangan. Dan aku bilang,

“Riku pintar deh….Riku kan teriak jadi orang orang bisa tau dan bisa bukakan pintu untuk Riku. Memang harus begitu. Bagus Riku. Nanti kalau mau ke WC lagi, nanti Riku liat deh ada tombol yang bergambar orang dan berwarna oranye. Tekan itu saja, nanti pasti ada orang yang tolong. Tapi teriak itu sudah bagus.”

Aku takut dia trauma dan tahan pipisnya tidak mau ke WC bisa berabe. Jadi waktu dia mau ke WC lagi aku antar dia dan kasih tunjuk tombol yang aku maksudkan. Sesudah itu dia bisa pergi sendiri lagi.

Terkunci di WC, suatu kondisi yang pasti tidak mau kita alami. Tapi aku ingat Mama pernah mengalaminya di bandara Yogyakarta. Sampai terpaksa petugas naik dari atas dan masuk ke dalam bilik, untuk membuka pintu dari dalam. Untung masih sempat naik pesawat. Aku sendiri belum pernah mengalami, tapi mungkin karena dulu ikut pramuka, aku selalu memeriksa kondisi wc/kamar yang aku masuki untuk mengantisipasi kemungkinan terkunci dsb. Prepared, tapi melelahkan karena syarafnya tegang terus deh. Kadang tidak enak juga menjadi orang yang “selalu siap”

Tujuh jam perjalanan memang melelahkan. Untuk sendiri saja capek, apalagi jika membawa bayi/anak balita. Belum lagi kalau nangis terus. Untung aku bisa konsentrasi ke Kai saja, karena Riku bisa main video game sendiri. Tapi waktu landing, Riku sempat muntah, dan aku dengan satu tangan harus cari kantong plastik, dan akhirnya pakai selimut untuk bantu Riku. Rasanya ingin punya 10 tangan supaya bisa melakukan semuanya sekaligus. Ini aku sudah terlatih deh untuk melakukan dua pekerjaan yang berbeda dengan satu tangan. Sulit memang menjadi seorang ibu. Untuk urusan barang kali ini tidak menjadi masalah karena Tina bantu aku untuk angkat barang. Tapi kalau misalnya tidak ada Tina? duhhh bagaimana nanti pulangnya ya? Que sera-sera deh.

Akhirnya setelah 7 setengah jam, kita landing dengan selamat di bandara Soekarno Hatta. Satu hal yang membuat aku senang dengan bandara Indonesia adalah dengan adanya sistem porter. Kalau di Jepang tidak ada sistem porter. Semua orang harus bertanggung jawab mengangkat kopernya sendiri dari luggage belt ke trolley. Dan aku harus mengalami mengangkat koper sendiri dalam keadaan hamil dan waktu menggendong bayi. Tidak ada orang Jepang yang membantu. This is what I called DINGIN. Nobody cares. Kalau ada porter, biarpun mahal aku akan bayar. Tapi tidak ada. Di sini bisa dirasakan bahwa uang tidaklah menyelesaikan segalanya (eh bisa deng kalau saya bayarin tiket  seseorang khusus untuk angkat-angkat koper…ayo siapa mau? tapi duitnya ngga ada tuh).

Setelah bertemu orangtua, Chris dan Andy, kita muat koper di dua mobil dan go home deh. Satu hal yang membuat aku sedih juga waktu melewati bundaran Senayan, yaitu berubahnya pemandangan akibat adanya Senayan City. Where is my old town?

(lucu deh si riku dan kai lagi bobo….ada suatu saat riku sebelah dalam dan Kai sebelah luar, sesudah 2-3 jam kedudukan berubah….kok bisa?)

Before we leave tokyo

23 Jul

Sebetulnya kami (or saya) berencana untuk menginap di yokohama 2 malam sebelum hari keberangkatan tgl 21 Juli lalu. Tapi karena Gen sakit kepala, jadi kami batalkan saja, karena toh masih ada hari. Cuma aku jadi repot pikirin masak makan malam apa. Berhubung hampir seluruh isi lemari es sudah aku buang siangnya. So, tidak boleh masak sesuatu yang nyisa. Satu-satunya solusi adalah spaghetti.

Tapi berkat penundaan keberangkatan ke Yokohama (rumah mertua) ini, saya bisa melanjutkan membersihkan rumah yang rasanya tidak habis-habisnya itu. Masih sempat kosek kamar mandi, cuci pakaian kotor terakhir, dan scan foto-foto Riku dan Kai. Sehingga Minggu pagi sekitar jam 9 kami bisa meninggalkan rumah dalam keadaan bersih. Saya selalu berusaha membersihkan rumah sebelum berangkat bepergian jauh. Pemikiran ini saya dapatkan dari mantan induk semang, Mrs K, yang selalu membersihkan sesuatu jika akan pergi ke LN. Dia bilang, “Supaya jika kita harus mati, tidak merepotkan pihak keluarga/teman yang ditinggalkan, karena semua sudah bersih, dan kita tidak malu (meskipun kalau sudah mati tidak punya perasaan malu lagi sih…)”. Karena itu biasanya tanda-tanda orang yang akan meninggal, adalah kebiasaan mendadak untuk membersihkan sekitarnya. Pikir punya pikir pandangan ini memang baguslah. Saya juga rasanya tidak mau jika nanti orang yang membereskan barang-barang saya untuk terakhir kalinya ngomel ngga keruan. (wahhhh gile… si imelda punya ini itu —buku atau video bokep misalnya—, diiih ada permen yang udah meleleh dalam tasnya…jorok banget sih dsb dsb… apalagi kalau ketemu bukti-bukti selingkuh hahaha, oooiii canda loh ini semua!!!). Wahh sambil menulis kalimat terakhir aku jadi ingat cerita The Bridges of Madison County ). Ahhh, Indah sekali percintaan mereka.


Kita berangkat dari rumah jam 9 pagi, dan begitu sampai di yokohama, kita pergi nyekar ke makam Nenek yang meninggal 3 tahun yang lalu. Sebetulnya ada peringatan 3 tahun meninggalnya, tapi karena dianggap kita sibuk, yang hadir hanya anak-anaknya saja…means bapak-ibu Gen dan Om-tantenya Gen, dan itu dilaksanakan tgl 7 Juli (hari biasa) yang lalu.

(Jonny Walker blue label  —— Kai pegang botol sake kosong di dapur….oioi…masih 19 tahun lagi baru kamu bisa minum itu loh)

Dari makam kita pulang ke rumah, dan start to drink (gawat deh dari siang udah nomikai). Papanya Gen kasih lihat minuman Jonny Walker blue label. Yang aku tahu biasanya Jonny Walker hanya black dan red. Take a sip and….sorry aku memang ngga bisa minum whisky dan yang sejenis. Sambil makan dan minum ngegossip, sampai akhirnya papanya Gen dan Gen teler, tidur siang.  So Lady’s talk start. Ibunya kasih rasa Mango Liquier. Biasanya aku ngga suka karena manis, but for a change lumayan. Dan kita berdua juga habisin satu botol white wine yang khusus, karena warnanya keruh, manis. Ibunya mulai teler, but aku belum. Satu-satunya selain anak-anak yang masih sadar, dan masih sempat beresin meja makan dan cuci piring. It was good. Sudah lama kami tidak bertemu dalam suasana santai (dan mabok) sehingga bisa bercerita tentang masalah-masalah keluarga tanpa malu-malu. I really love my japanese parents. And thank God that He gave me a really understandable in laws. Kalau dengar cerita-cerita dari pasangan campuran lain, biasanya memang masalah datang dari pihak keluarga, pihak orang tua yang berpikiran kolot. Aku memang sudah mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan-kemungkinan itu. But sampai saat ini aku tidak pernah mendapatkan masalah dari mereka.

Sisa hari Minggu dilewati dengan santai dan malam ditutup lebih cepat dari biasanya, karena kita harus bangun jam 5 pagi keesokan harinya. Tapi sebelum tidur, Gen ambil diapers dulu di mobil dan jalan-jalan sama riku melewati dinas pemadam kebakaran. Waktu riku lihat-lihat mobil pemadam yang ada, dia disapa oleh petugas nya dan ditanya, apakah mau naik…wahhhh riku senang sekali bisa pegang dan naik ke mobil pemadam. Papanya sampai iri karena sewaktu kecil, dia dan adiknya belum pernah sekalipun bisa mendapatkan pengalaman ini. dan oleh si petugas, Riku diberikan gambar tempel dan notes dengan gambar dinas pemadam kebakaran. Wah Riku senang sekali karena bisa pamer dengan teman-temannya di sekolah. Sayangnya Gen tidak bawa kamera maupun HP sehingga tidak bisa mengabadikan peristiwa yang langka ini.

Cerita mengharukan

21 Jul

saya tujukan untuk the Asunaros……selamat bekerja di hari Senin yang indah ini….(mustinya)

Diane dan Jack berteman baik. Mereka telah saling mengenal sejak bersekolah dan sejak menjadi sahabat baik. Mereka berbagi semua dan apapun juga dan menghabiskan banyak waktu bersama dalam dan setelah sekolah. Tetapi hubungan mereka tidak berkembang namun hanyalah sebatas teman. Diane menyimpan rahasia, kekagumannya dan cintanya kepada Jack. Dia memiliki alasan tersendiri untuk menyimpan hal itu sendiri. TAKUT! Takut akan penolakan, takut jika Jack tidak sebagai temannya lagi, takut kehilangan seseorang yang dia merasa nyaman bersamanya.

Setidaknya jika dia tetap menjaga perasaannya, dia mungkin masih bisa bersama Jack dan dengan harapan, bahwa Jack lah yang akan mengatakan bagaimana perasaannya kepada Diane.
Waktu terus berjalan dan sekolah telah bubar. Jack dan Diane pergi ke arah yang berlainan. Jack melanjutkan studinya ke keluar negeri, sedangkan Diane mendapatkan pekerjaan. Mereka tetap saling berhubungan, dengan surat, saling mengirimkan foto masing-masing dan saling mengirimkan hadiah. Diane merindukan Jack akan kembali. Dia telah memutuskan bahwa dia memiliki kekuatan untuk mengatakan. Dan tiba-tiba, surat dari Jack terhenti. Diane menulis kepadanya,tetapi tidak ada jawaban.

Dimana dia? Apa yang terjadi? Banyak pertanyaan yang ada di kepalanya. Dua tahun berlalu dan Diane tetap berharap bahwa Jack akan kembali atau setidaknya mengiriminya surat. Dan doanya terkabul.
Dia menerima surat dari Jack, mengatakan…! ” Diane, aku punya kejutan untukmu… temui aku di bandara pukul 7 malam. Aku tidak kuat menunggu untuk menemuimu lagi. Cinta dan cium Jack”

Diane berbunga-bunga. Cinta dan cium, berarti banyak bagi seorang wanita yang belum merasakan cinta sebelumnya. Dia begitu gembira atas kata-kata itu.
Ketika harinya telah tiba, Diane menunggu dengan cemas. Dia memakai pakaian terbaiknya dan berusaha terlihat secantik mungkin. Dia mencari Jack kesana kemari. Tetapi tidak dilihatnya Jack. Kemudian datang seorang wanita dengan pakaian ketat berwarna biru yang seksi.
Dia begitu perhatian melihat Diane, “Hai! Aku Jacelyn, temannya Jack. Kamu Diane?” tanyanya.

Diane menganggukkan kepala. “Maaf, aku punya kabar buruk bagimu. Jack tidak akan datang. Dia tidak akan datang lagi,” kata wanita itu, sambil meletakkan tangannya di pundaknya Diane.

Diane tidak dapat mempercayai hal yang dia dengar!!! Apa yang telah terjadi?? Diane bingung, dia amat sangat khawatir sekali dan wajahnya menjadi pucat.
“Dimana Jack? Apa yang terjadi padanya??? Katakan padaku…” Diane memohon kepada si wanita.

Si wanita melihat dengan cermat ke Diane dan dia menepuk pundak Diane dan mengatakan……….
………………………..

………………………..

……………………….

………………………

…………………………

………………………

“ALAMAK DIANE… INI IKE  LOH …….JACK…APAKAH IKE TERLIHAT CANTIK SEKARANG?
AIH….AIH……YEY TIDAK DAPAT MENGENALI IKE LAGI YAH??? IHHH…SEBEL
DEH WEITJEHHH…..!!! …….


Dan kemudian Diane langsung pingsan…..

muach buat Lala….jangan pingsan ya….

Summer in Japan means…..

20 Jul

Nomor satu adalah LEMBAB (mushi atsui), duuuuh dehhhh lembabnya bisa sampai 90% kali. Seminggu terakhir ini puncak suhu udara terpanas HANYA 34 derajat, di Nerima. Mungkin daerah saya ini aneh ya, kalau di pusat kota cuma 30 derajat maka di tempat saya bisa 32 derajat. Tapi, kalau musim dingin, di pusat kota 10 derajat maka di tempat saya 8 derajat. Kalau bersalju…. tempat saya ini juga paling lambat mencairnya.

Nomor dua menurut saya adalah SUIKA, atau semangka. Karena suika ini merupakan buah kesayangan saya dan Riku (juga ibu mertua) jadi begitu ada suika dijual di toko langsung beli. Dulu pertama kali makan suika di Jepang, saya merasa bahwa suika di Indonesia lebih manis dan lebih enak, apalagi tidak ada bijinya. Tapi kenapa akhir-akhir ini berbalik ya? Ada juga yang bilang sih bahwa kalau makan suika supaya manis, ditaburi sedikit garam…. Hmmm. Dan Suika ini kan bagian yang termanis adalah yang paling tengah. Coba deh lihat hasil karya Riku…. Bagian tengahnya dimakan duluan, dan yang lain ditinggal. Huh. memang paling praktis disajikan setelah dipotong kotak-kotak, tapi makan suika yang dipotong seperti bulan sabit ini memang asyik….

(semangka hasil gigitan Riku – Kai makan semangka dan jagung)

Nomor Tiga adalah JAGUNG (tomorokoshi), saudara-saudara. Jagung hanya diproduksi waktu musim panas, sehingga waktu musim panas harganya murah. Meskipun masih mahal menurut saya… 1 jagung seharga 200 yen (16.000 rupiah). Jagung di sini biasanya hanya direbus, sehingga saya kangen sekali makan jagung bakar yang biasa dijual di emperan jalan menuju puncak. Hmmm mau cari jagung bakar ah kalau nanti sempat pergi ke Taman Safari.

Berhubung ada yang bilang bahwa postingan saya selalu ujung-ujungnya makan…maka selanjutnya saya mau menulis ranking selanjutnya yang tidak berhubungan dengan makanan. heheheh. Ranking ke empat adalah HANABI (firework festival) dan jika menonton hanabi ini, paling asyik kalau pakai yukata (saya sudah pernah post ya). Hanabi di musim panas biasanya dimulai pada Hari Laut tahun tersebut. Tahun ini Hari Laut jatuh pada tanggal 21 Juli. Di berbagai tempat diadakan festival kembang api ini. Dan karena Hari Laut adalah peringatan pembukaan pelabuhan Yokohama, maka tentu saja paling afdol kalau menonton festival ini di Yokohama, tepatnya di perairan depan Yamashita Koen. Saya sendiri belum pernah menonton Hanabi yang di Yamashita Koen. Tempat yang pernah saya kunjungi waktu berhanabi adalah Sumidawaga Festival, yang terbanyak jumlah kembang apinya. Saya pergi ke festival ini di awal tahun kedatangan saya ke Jepang, bersama teman-teman dari Ajiken (Asia Keizai Kenkyuujo) yang saya anggap sebagai sempai saya yaitu Matsui san, Dobeta san, Kyou-san. Pengalaman ini tidak pernah saya lupakan karena pertama kali saya lihat begitu banyak orang meluap di jalan-jalan, sampai-sampai polisi harus mengatur arus pengunjung dengan menghentikan arus manusia ini setiap beberapa menit. Terus terang saja, saya takut dengan keadaan seperti itu. Untung di Jepang, warganya patuh-patuh coba kalau di negara saya tercinta, mungkin sudah timbul korban terinjak-injak berapa ratus orang.

Selain hanabi di Sumidagawa, menonton hanabi di Kamakura (Enoshima) juga bagus, karena kita melihat seakan-akan hanabi itu muncul dari permukaan laut bagaikan air mancur (bayangin deh logonya jamu air mancur). Indah!!. Waktu pergi Hanabi ke Futakotamagawa, saya bisa menikmati hanabi dari bantaran sungai dengan melihat ke arah kanan dan kiri. Hanabi di Disneyland jangan ditanya deh…. dengan latar belakang cinderella castle …duh serasa di dunia impian. Hanabi yang lain kecil-kecil skalanya, dan tersebar hampir di semua daerah di Jepang. Mungkin hanabi bagi saya yang terjauh adalah di Hachinohe (Aomori ken) utara Jepang, waktu mengadakan perjalanan menonton Neputa dan Nebuta Matsuri. Tapi pergi hanabi begini kecuali waktu di Chiba Port Tower, saya tidak mau pakai yukata. Karena ribet deh…panas… Lagipula sudah tidak muda lagi untuk menarik perhatian lawan jenis hihihi. Lewat 5 tahun di Jepang sudah malas untuk pergi berdesak-desakan dalam udara panas. Lebih baik menonton televisi dalam ruangan yang sejuk (memang lain sih kalau melihat langsung bisa merasakan dentuman hanabinya juga). Atau yang paling asyik menonton dari teras mansion melihat hanabi Toshima-en dan Seibu-en, sambil menikmati bir dingin hehhehe.

(kiri=Riku pakai JINBEI untuk bon odori di TK nya, kanan = capung jepang yang mempunyai garis hijau berkilat… namanya…lupa!!)
Tapi karena saya tidak suka panas juga, saya selalu berusaha tidak berada di Jepang waktu summer. Lebih baik menikmati udara dingin di Australia (karena waktu itu adik saya Novi berada di sana) atau udara kering di Jakarta. Sehingga kesempatan untuk menonton Hanabi jadi terlewatkan.Juga kesempatan untuk mengadakan Barbeque (hmmm enak loh bakar ikan atau daging di pinggir sungai sambil bercanda dengan teman)

Bagi anak laki-laki, musim panas berarti kegiatan outdoor menangkap kupu-kupu atau serangga lainnya. Riku juga senang menangkap serangga dan kupu-kupu (meskipun akhirnya dilepaskan) dan kemudian mencocokkan nama-nama binatang yang ditemukan dalam ZUKAN (kamus bergambar). Jadi bisa sekaligus belajar jenis-jenis hewan. Selain kegiatan outdoor begini, biasanya juga banyak anak-anak yang hobi dnegan kereta api, akan mengelilingi semua stasiun di suatu jalur, dan turun di setiap stasiun untuk mengumpulkan cap stasiun. Kegiatan ini juga saya rasa sangat bermanfaat (meskipun pasti meleelahkan ibu yang menemaninya). Sayang tahun ini tidak bisa karena berlibur ke jakarta, tapi untuk musim panas yang akan datang nantinya, saya juga berencana untuk melewatkan liburan dengan menemani Riku (bersama Kai tentunya) untuk melakukan railway journey ini. Gini-gini Kimiyo, adik Jepang saya itu mengganggao saya ahli perkeretaapian Tokyo, karena saya tahu semua jalur dan bagaimana ganti kereta dengan efisien waktu. Tapi itu kan semasa saya single dan sering jalan untuk mengajar. Sekarang sudah banyak jalur baru yang bertambah dan saya belum pernah naiki.

(kiri = Riku dan Kai yang pegang hadiah ultahnya, kanan “Mama jangan taruh aku dalam koper dong!!”)

Meskipun banyak kegiatan  musim panas di Jepang, Matsuri (Festival), Hanabi (kembang api), barbeque, Mushi tori (menangkap serangga), Kakigori (es serut) yang mungkin terlewatkan, Riku dengan gembiranya mengatakan “Jakarta…machidooshii…(saya nanti-nantikan)” Semoga saja Liburan tahun ini bisa memberikan kegembiraan yang lebih banyak lagi bagi Riku, dan Kai tentunya.

Ittekimasu (saya pergi)……

(Papa Gen jaga rumah dan ikan di akuarium baik-baik ya…)

Asunaro

17 Jul

Saya teringat kembali kata Asunaro waktu Bang Hery menyebutkan kata itu untuk menamakan ‘geng blog 4 sekawan’ . Bang Hery ini pasti ingat kata Asunaro dari sebuah seri drama TV yang aslinya berjudul “Asunaro Hakusho” dan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi “Asunaro White Paper” or “Ordinary People“. Kabarnya seri ini juga sudah diputar di Indonesia dan cukup terkenal. Yang juga pasti diingat penonton adalah tema song film seri ini yaitu lagu yang berjudul True Love dari Fujii Fumiya.(Lagu dan lirik bisa cari sendiri deh, dibantu mas google ya.)

Film Drama seri ini diputar di Jepang bulan Oktober 1993, dan saya sendiri lupa saya pernah nonton atau tidak. Mungkin menonton tapi tidak lengkap. Saat itu saya sedang dalam proses “penantian” hasil ujian masuk program S2 di Yokohama National University. Kalau saya diterima, maka saya akan mulai program itu di bulan April 1994, tapi kalau tidak maka saya harus pulang (dan hanya membawa sertifikat mengikuti kursus menjadi guru bahasa Jepang).  Yang saya ingat dari film itu hanya ada beberapa mahasiswa dnegan raut muka suram-suram berkumpul di sebuah ruangan…. terlalu banyak percakapan. Sehingga saya menjadi boring …maybe. Padahal di situ bermain si Kimura Takuya , yang nantinya menjadi some sort of idol untuk saya. (Soalnya kalau ditanya murid, sensei suka aktor siapa? …harus bisa jawab kan…..hehheeh).

Asunaro ( Thujopsis dolabrata) itu sendiri adalah nama pohon jenis pinus Hinoki yang merupakan jenis khusus ditemukan di Jepang saja. Nama lainnya adalah Hiba. Dan ada hipotesa asal usul nama tersebut dari pernyataan “Ashita (Hinoki) ni naru”, Besok akan menjadi Hinoki… jadi seakan-akan jenis ini nanti jika besar akan menjadi pohon Hinoki…tetapi salah, karena ini merupakan jenis tersendiri. Ashita ni naru, disingkat menjadi Asunaro. Besok/ Kelak menjadi besar dan berguna. Karena Hinoki banyak dipakai dalam kehidupan di Jepang.

So, posting saya ini sebetulnya hanya untuk meyakinkan agar si grup 4 sekawanan ini, yang menamakan diri sendiri sebagai The Asunaro, dapat menjadi besar dan berguna…mungkin bagi blogger yang lain, mungkin bagi masyarakat yang membaca tulisan “The Asunaro” ini, mungkin bisa menelurkan buku-buku canggih (hayo lala dan mas trainer) dengan Bang Hery sebagai tonggaknya (sapa tahu bang hery juga menulis buku, who knows)… dan saya dari jauh di negara matahari terbit…. bisa melihat mataharinya pindah …terbitnya di Indonesia…  Duuuh ngomongnya kayak udah sepuh aja hihihi. Yah pokoknya, (keluar deh ciri khas Imelda dengan kata pokoknya dnegan penekanan di huruf K), semoga (blog) saya ini juga bisa berguna bagi yang baca deh.

SEKIAN dan Terima kasih.

(haiyah kok jadi kayak pidato…gini nih kalo lagi kumat….forgive me ne asunaro’s yang lain hihihi)

Kugadaikan Cintaku

17 Jul

“Di Radio aku dengar…. lagu kesayanganmu…..”

Enak ya lagunya si Alm. Gombloh ini. Menunjukkan keberadaan RADIO sebagai media untuk “bercinta”. Saya tidak tahu bagaimana dengan Anda, tapi dulu senang rasanya bila kita mendengarkan nama kita diucapkan oleh sang penyiar, …untuk xXx dari yYy dengan ucapan ……

Atau melalui Radio, saya juga menikmati sandiwara Radio dan menikmati suara Maria Oentoe yang bagi saya “bening” (istilah sapa ya ini)…. Pernah terlintas di benakku, aku ingin menjadi seperti dia. Seiyu bahasa Jepangnya. Kalau diterjemahkan harafiah “Artis Suara”. Dan ….tahukah Anda bahwa Seiyu di Jepang merupakan profesi yang menjadi incaran pemuda-pemudi Jepang. Banyak kita temukan sekolah-sekolah yang melatih profesional Seiyu ini. “Pengisi Suara” atau dubber biasanya melewati sekolah-sekolah ini. Saya tidak tahu apakah ada unsur “teknik” rekaman, tapi coba dengarkan suara si Nenek Sophie dalam film “Howl the Moving Castle”. Suaranya bisa berubah dari suara Sophie Remaja menjadi Sophie Nenek, dan kembali lagi. Pengisi suara si Sophie ini adalah seorang Artis yang menjadi adik tokoh Torajiro yang terkenal itu.

So, kembali ke Radio…. Radio mungkin merupakan media hiburan yang termurah dan terjangkau oleh semua lapisan masyarakat. Saya rasa kalau Anda bermobil, dan lupa membawa CD/Kaset, juga pasti mendengarkan Radio di mobil Anda. (Hei….ada acara di suatu Radio di Jakarta yang selalu saya dengarkan dan itu damn good, humornya hidup euy). Radio juga sempat dipakai sebagai alat propaganda Jepang pada waktu pendudukan di Indonesia (1942-1945). Lewat Radio disiarkan lagu-lagu untuk senam bersama, lomba pidato bahasa Jepang, pengumunan-pengumuman penting bagi kejayaan Asia Timur Raya. Radio berperan penting dalam “Shakai Kyouiku” (Pendidikan masyarakat). Waktu saya meneliti tentang  Pendidikan Indonesia jaman Pendudukan Jepang inilah, saya tergelitik juga untuk menyelidiki peran Radio bagi pendidikan masyarakat… tapi belum ada waktu. Pikiran saya sekarang, Jika mau mendidik bangsa Indonesia secara menyeluruh, kita bisa menggunakan Radio… karena Radio merupakan alat yang termurah dan termudah.

Stop tentang Radio-radioan… sebetulnya yang ingin saya posting di sini adalah ingin bercerita mengapa di kolom perkenalan saya terdapat kata “Mantan DJ”. Sebetulnya saya juga tidak setuju istilah DJ ini tapi ternyata seorang “yang bekerja sebagai pembawa acara dan memutarkan lagu di Radio” awalnya disebut sebagai DJ. Atau jika bagian “bicara”nya lebih banyak dari “musik”nya sering disebut personality. Baru kemudian konotasi DJ adalah untuk mereka yang memutar lagu dari piringan Hitam or whatever dengan mencampuradukkan lagu-lagu sehingga menjadi suatu musik yang baru. Yang terkenal di Jepang misalkan DJ HOnda. Saya tidak tahu tentang DJ Indonesia bagaimana… (or mungkin sepupu saya, Richard Mutter bisa disebut terkenal, secara dia mantan pemain drumer PAS dan sekarang berprofesi sebagai VJ yang pernah juga mendapatkan penghargaan. Sorry aku ambil nama kamu sebagai contoh ya Ki.)

Saya mulai bekerja sebagai announcer, pembawa berita di Radio InterFM, Tokyo (76,1 Mhz) sejak usai menyelesaikan program Master di Yokohama National University (YNU), April 1996. Saya langsung diterima sebagai pembaca berita berbahasa Indonesia di situ karena mempunyai “pengalaman” dengan “Mike Radio”. Itu saja alasannya. Memang saya pernah sebelumnya selama 3 tahun kontrak mengisi sebuah acara di Radio Japan (radio NHK-Internasional) yang berjudul “Ogenkidesuka” yang disiarkan lewat Radio SW (ShortWave). Acara pengajaran percakapan bahasa Jepang selama 5 menit setiap minggu selama setahun, dan paket itu diulang selama 2 tahun (padahal honornya cuman buat setahun tuh….heheheh). Di NHK ini yang dipakai adalah pengalaman saya or latar belakang saya yang pernah mengikuti pendidikan menjadi guru bahasa Jepang. Bukan latar belakang “Radio” nya. Dan itu ternyata menjadi jalan pelicin saya menjadi “Orang radio”.

(NHK -Ogenkidesuka with Yasui-san    — Stasion’s opening ceremony -PSA personality)

Awalnya tugas saya hanya menerjemahkan berita dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia dalam acara “Public Service Announcement” (PSA) …ini disiarkan satu kali seminggu dengan jangka waktu 3 menit saja. Tapi di hari yang sama, saya memperoleh jatah 2 x 3 menit untuk membacakan berita-berita aktual dalam bahasa Indonesia. Dan beritanya saya cari sendiri, edit sendiri dan bacakan sendiri, karena producernya tentu saja tidak mengerti bahasa Indonesia. Jadi kalau seandainya saya seorang provokator, saya bisa saja mengumumkan “seruan perang”, berbohong pada laporan isi berita. Jadi untuk acara 3x 3 menit ini saya harus datang seminggu sekali ke studio InterFM , yang waktu itu berkantor di Shibaura, dekat Tokyo Tower. Jadi kalau dipikir juga, biasanya honor di Jepang itu dihitung berdasarkan jam, saya berdasarkan menit. hehheh …cuma persiapannya itu loh….

Selain membaca berita, kemudian saya harus membuat Bansen (Bangumi Senden= Promosi Acara lain) di Radio kami dalam bahasa Indonesia. Misalnya … “Anda sedang mendengarkan Acara Prime Time bersama Charles Glover”. Si Charles ini biasanya minta kita bacakan dengan “suara bersemangat”, “suara seksi” (karena acaranya dia larut malam), dan “biasa-biasa”. Huh, suara seksi itu yang paling susah bo…..

Selain Bansen, saya juga mengerjakan narator untuk iklan-iklan misalnya Kartu Telepon Internasional. Tentu saja dalam bahasa Indonesia karena targetnya adalah orang Indonesia yang tinggal di Tokyo sekitarnya. Oh ya mungkin saya harus menjelaskan sedikit mengapa Radio InterFM ini memiliki siaran 7 bahasa asing, dan merupakan Radio berbahasa Inggris (90%) , satu-satunya di Tokyo. Awalnya adalah karena gempa KOBE yang banyak menelan korban jiwa. Nah disitu terpikirkan bagaimana orang asing yang tinggal di Jepang ini bisa mendapatkan “bantuan” informasi jika terjadi bencana alam yang besar. Dengan tujuan memberikan informasi pada warga asing itulah, akhirnya di Tokyo didirikan InterFM ini (meskipun setelah 10 tahun tujuan itu memudar dan akhirnya dibeli pihak swasta dan tidak menjadi internasional lagi…dan saya juga berhenti dari situ…after 10 years).  Jadi misalnya selama saya bekerja di situ, terjadi gempa besar di tokyo, saya harus datang ke studio dengan cara apa pun  dan bagaimanapun, untuk kemudian membacakan pengumuman-pengumuman bagi masyarakat dalam bahasa Indonesia. Karena itu juga saya tahu banyak tentang apa yang harus dipersiapkan dalam menghadapi gempa. (Untung saja selama itu belum —dan amit-amit jangan—- terjadi gempa besar di Tokyo).

Setahun sesudah acara PSA berjalan, saya ditawari dipaksa untuk menjadi DJ, host untuk program 1 jam dalam bahasa Indonesia. Program ini BOLEH diisi apa saja. TERSERAH kamu. Bagaimana-bagaimana nya semua TERSERAH kamu. Karena pihak Radio hanya BUTUH program 1 jam itu berbentuk kaset digital SIAP PUTAR setiap minggu. DOOOOr deh. So saya yang sorangan ini, harus menjadi Producer, Penulis naskah, Pemilih lagu (jangan sebut music director deh…kekerenan), Pemutar lagu, dan Cuap-cuap dan setelah itu menulis laporan lagu apa saja yang dipasang, dan berita apa saja yang dibicarakan ke dalam bahasa Inggris (mengisi Cue sheet), dan terakhir menuliskan keterangan lagu (judul, artis, album, produksi, lama lagu, lama diputar) untuk diserahkan ke JASRAC. Duuuh ,…… Help Meeee. Dan satu lagi teman-teman, saya waktu itu sudah 5 tahun di Jepang dan no touch dengan musik Indonesia… how can I know that in this very short notice. Untuuuuung banget waktu itu adik saya baru datang dari Indonesia untuk melanjutkan studi di sini, dan tinggal sama-sama (of course yah) dan dia yang input saya dengan band baru Indonesia saat itu, GIGI, Dewa, Slank dsb dsb dsb dsb dsb ….

Start from zero!!! Saya belajar bagaimana mainkan operator board, bagaimana rekam ke kaset digital DAT, menggunakan DAD, MD,  kemudian tidak boleh ada blank lebih dari 5 detik karena bisa menjadi “kecelakaan siaran” and so on, and so on. Sepertinya saya harus MENJELMA menjadi DJ (yes saya rasa saya bisa pakai kata DJ for this kind of work, not just announcer) dalam huh …no time. Saya hanya diberi satu kali studio rehearsal untuk coba alat-alat then sesudah itu langsung rekaman siaran pertama. SAKIT PERUUUUT. Untung lagi si Tina mendampingi aku, dan bantu serabutan…wong sama -sama ngga tau. Program yang satu jam itu butuh waktu studio 6 jam, padahal skrip nya sudah disiapkan, album juga sudah disiapkan. So saya sekarang tidak mau dengar kaset rekaman siaran pertama saya…. gagap jeh. kaku…  Ya gimana dong, sistem One Man Studio ini bagaimana bisa saya kuasai dalam waktu yang (bukan relatif lagi) BENAR-BENAR singkat. Bagaimana saya bisa nyaingi DJ kawakan seperti si Charles yang sudah “bangkotan” kerja di Radio. aduh aduh aduh deh. Dan musti diingat juga saya tidak kerja as a DJ saja waktu itu. Saya masih dan terus kerja sebagai guru bahasa Indonesia di sekolah-sekolah Bahasa. Satu hari dalam satu minggu saya harus menderita euy. (satu hari lainnya yang PSA itu sudah “bukan apa-apa” lagi). Saya harus putar otak terus…ini acara 1 jam harus saya isi apa….. Nangis, nangis deh loe. Satu-satunya yang menghibur saya waktu itu adalah jam penyiarannya jam 2 pagi hari Sabtu (Jumat jam 26:00 istilahnya). Saya pikir ah sudahlah …toch tidak ada yang mau dengar jam segitu.

BUT …… perkiraan saya salah….. hiks….. (lanjutnya besok besok aja ya….capek….jadi inget masa lalu sih).

bersambung

NB: Nama program musik 1 jam itu saya namakan “Gita Indonesia” dan memakai Tema Song lagu-lagunya Ruth Sahanaya yang riang, berganti setiap tahun (untuk 4 tahun).

cerita lain mengenai kegiatan saya di Radio juga bisa dibaca di:

http://imelda.coutrier.com/2008/12/17/kartu-pos-itu/