Padi dan Masyarakat Jepang

Sudah pernah makan nasi Jepang? Hmmm coba deh sekali-sekali…. or datang deh ke Jepang kalau ada kesempatan. Rasanya nasi Jepang tidak ada duanya. Lembut dan manis. Dua minggu saya jalan-jalan di Jepang (waktu pertama kali study tour ke Jepang) , bisa naik 2 kg. Itu jalan-jalan, bagaimana kalau tinggal? Jadi sekarang syaa tidak mau banyak makan nasi… (tapi sake….ya sama aja itu kan terbuat dari beras juga hihihi). Jika mau melihat cerita ttg beras Jepang ini, silakan tonton acara di TV yang merupakan kerjasama Japan Foundation dan TVRI.
Padi & Masyarakat Jepang

Sungguh menarik mengetahui apa yang dilakukan masyarakat Jepang dengan padi. Anda dapat mengenal segala sesuatu tentang Padi dan Kehidupan Masyarakat Jepang melalui tayangan film dokumenter menarik di TVRI. Tayangan ini diselenggarakan atas kerjasama The Japan Foundation dan TVRI.

setiap hari Rabu, Kamis dan Jumat pk. 16:30-17:00 WIB di TVRI.

6 Agustus : The Life Cycle of Rice & Rice Cultivation around the World.

8 Agustus : Preparing the Paddy & Water : The Rice Paddy’s Font of Life

27 Agustus : Creature of the Paddy & The War against Pests

28 Agustus : The History of Rice Cultivation in Japan & Selective Rice Breeding

3 September : Let’s Eat Rice & Rice Dishes Around the World

4 September : Animals Brace Themselves for Winter & Making Rice Cake

5 September : A Rice Farmer’s Challenge & Environmentally Friendly Rice Cultivation

The Japan Foundation, Jakarta merupakan lembaga administrasi independen yang didirikan tahun 1974 dengan nama Pusat Kebudayaan Jepang untuk mempromosikan kegiatan pertukaran budaya antara Jepang-Indonesia.

Jam buka :
Kantor : Senin-Jumat 08:30-16:30
Perpustakaan ( terbuka untuk UMUM ), menyediakan sekitar 29,000 buku berbahasa Indonesia,Inggris dan Jepang.
Senin-Jumat : 09:30 – 18:00
Sabtu : 09:00 -12:30 ( minggu ke 2&4 TUTUP )
Rabu, Minggu dan hari besar TUTUP.

The Japan Foundation, Jakarta
Summitmas I lantai 2-3, Jl.Jend.Sudirman – Jakarta Selatan
T.021-520-1266 F.021-525-5159 | http://www.jpf.or.id

6 gagasan untuk “Padi dan Masyarakat Jepang

  1. gnw

    lembut dan manis? hmm… jadi kepingin nyoba nih. Apakah karena bibitnya yang berbeda ataukah iklim tanam beserta cara tanamnya yang diperhatikan bener untuk menghasilkan nasi jepang yang “pulen” gitu?
    btw, saya gak ngerti kalimat mbak yang… “Dua tahun minggu saya jalan-jalan di Jepang…”

    bibitnya dan jenis nya beda. tapi katanya dulu itu merupakan campuran dr beras asal indonesia loh. sorry kalimat itu aku hapus. maksudnya saya dulu pernah study tour ke Jepang selama 2 mg (sebelum tinggal di sana) dan itu 2 mg saja naik 2 kg…so bayangkan kalau tinggal naiknya berapa kilo gitu hihihi

    Balas
  2. putri

    Lho, mbak ? khan sekarang emang udah tinggal di Jepang toh ?

    Buat PUtri, beras yang paling enak adalah beras dari sumatera barat…hm..hm..

    Dulu pernah makan beras jawa…setelah itu…perut langsung berontak-berontak he…he…

    iya kita harus mencintai produk sendiri dong, kalo ngga susah nantinya. Tapi masak sih nasi jawa bikin perut berontak? makannya ditemani mas jawa ngga?

    Balas
  3. Lala

    Ah, beras Jepang… Ah, inget roll sushi…. Ah, jadi laper… Hehe.

    Kalo 2 minggu naik 2 kg, berarti sekarang…. Hm, aku mau itung-itung bentar yah… 1kg/minggu..hem.. Sekarang.. Ah pasti segitu tuh! Hehe……

    Ps. Lagi di kereta, saltum, pake celana pendek tapi ACnya uadem buanget! Help!

    kamu hitung BB gue la?…percuma deh terlalu lama. Emang kamu tau berapa lama aku sudah tinggal di Jepang? 16 tahun bo….. 16 x52x1 kg …pesumo kalah duong …. duh di kereta masih sempet kasih komentar….adem ya la? cari mas jawa atuh…. selimut hidup…. nikubuton kata org jepang hahahah

    Balas
  4. putri

    He…he…waktu makan gak ditemani ama mas Jawa…
    Kalo ditemani sama mas jawa..bisa-bisa..’pemberontakan’nya lebih gila lagi…:))

    hmm pura-pura pingsan atuh…selanjutnya ceritanya tergantung keberanian si mas jawa (tapi kayaknya kalo mas jawa ngga berani deh hahahah)

    Balas
  5. Hery Azwan

    Kayaknya yang membuat padi Jepang itu nikmat, karena bibitnya diimpor dari Cianjur. Benar nggak Ime-chan?
    Benar, kata Ime-chan, tapi boongnya…
    Hi hi…

    Cianjur kepala ….kuda….hehehe

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *