Terima kasih atas pilihan Anda….

23 Jul

Sebuah kalimat terakhir yang masih aku hafal “Terima kasih atas pilihan Anda terbang bersama Japan Airline”. Serentetan salam dan pengumuman yang harus aku bacakan dan direkam dan sudah diputar bertahun-tahun. Aku sendiri tidak berharap untuk bisa mendengarnya kali ini, tapi ternyata masih juga diputar meski dengan volume yang lirih sekali. Sambil aku kasih tahu Riku, “Itu suara mama loh”. Ternyata masih dipakai.

Jam 5:45 pagi Gen jemput Tina dan Koko untuk kemudian langsung ke Narita, sedangkan aku dan anak-anak naik mobilnya mertua langsung ke Narita juga. Untung aku hanya membawa satu koper kecil, karena dua koper yang besar sudah menunggu di Narita (bahkan mungkin di pesawat) dan tinggal kita ambil di Cengkareng Tebura puran (hands free plan), layanan dari ABC+JAL. Proses check in lancar, meskipun aku lihat ada antrian panjang di beberapa counter JAL. Bandara saat itu boleh dikatakan sepiii sekali. Mengherankan juga. Apa akibat kenaikan harga avtur (bensin pesawat) menjadikan orang-orang Jepang memilih untuk berlibur di daerah yang dekat-dekat saja. Or ini juga menandakan resesi juga sedang  terjadi di Jepang. Entahlah aku bukan ahli ekonomi, dan tidak pernah berminat memperdalam ekonomi. Mungkin kalau mau belajar lagi aku lebih memilih Hukum daripada bidang ilmu lainnya. Wahhh kok melantur sampai hukum ya? Pesawat JAL yang kami tumpangi ini juga tidak penuh, tidak sampai separuhnya.

KKami menempati tempat duduk pertama setelah Bussiness Class, sebelah kiri dan ada bashinet, baby bed nya untuk Kai. Aku pesan child meal and baby meal. Yang mengherankan, makanan child mealnya lebih enak dan lebih cool dari yang untuk dewasa. Pudingnya puding caramel sedangkan di meal dewasa puding manggo. Saladnya Fruit Cocktail…. Duuh kan aku suka puding caramel…akhirnya tukeran deh sama Riku. Aku sambil suapin Riku karena Kai bobo, dan Riku kalau sambil menonton pasti tidak akan makan. Dia lebih pilih nonton daripada makan. Riku enjoy banget karena setiap tempat duduk ada video/game nya. Dia main terus, juga nonton Disney Channel.


Ada satu kejadian dengan Riku sehubungan dengan WC. Waktu pertama kali ke WC, dia pergi ke WC bersama aku. Kedua kalinya dia pergi sendiri dan berhasil. Good. Kemudian yang ketiga kalinya, di minta pergi sendiri lagi dan aku sedang kasih makan Kai yang sudah terbangun dari tidurnya. Sayup-sayup aku dengar suara teriakan anak-anak dua kali. Anak siapa tuh? pikirku. Ehhh tau-taunya Riku muncul dan dia bilang

“Mama tadi aku pergi ke WC yang lain, trus….. aku …. ngga bisa buka……(dia mulai nangis)… aku teriak dan pramugarinya buka…..”

Aduuuh anakku….

“OOOhhh pantesan tadi mama dengar anak teriak, itu Riku ya?”

Aku peluk dia dengan sebelah tangan. Dan aku bilang,

“Riku pintar deh….Riku kan teriak jadi orang orang bisa tau dan bisa bukakan pintu untuk Riku. Memang harus begitu. Bagus Riku. Nanti kalau mau ke WC lagi, nanti Riku liat deh ada tombol yang bergambar orang dan berwarna oranye. Tekan itu saja, nanti pasti ada orang yang tolong. Tapi teriak itu sudah bagus.”

Aku takut dia trauma dan tahan pipisnya tidak mau ke WC bisa berabe. Jadi waktu dia mau ke WC lagi aku antar dia dan kasih tunjuk tombol yang aku maksudkan. Sesudah itu dia bisa pergi sendiri lagi.

Terkunci di WC, suatu kondisi yang pasti tidak mau kita alami. Tapi aku ingat Mama pernah mengalaminya di bandara Yogyakarta. Sampai terpaksa petugas naik dari atas dan masuk ke dalam bilik, untuk membuka pintu dari dalam. Untung masih sempat naik pesawat. Aku sendiri belum pernah mengalami, tapi mungkin karena dulu ikut pramuka, aku selalu memeriksa kondisi wc/kamar yang aku masuki untuk mengantisipasi kemungkinan terkunci dsb. Prepared, tapi melelahkan karena syarafnya tegang terus deh. Kadang tidak enak juga menjadi orang yang “selalu siap”

Tujuh jam perjalanan memang melelahkan. Untuk sendiri saja capek, apalagi jika membawa bayi/anak balita. Belum lagi kalau nangis terus. Untung aku bisa konsentrasi ke Kai saja, karena Riku bisa main video game sendiri. Tapi waktu landing, Riku sempat muntah, dan aku dengan satu tangan harus cari kantong plastik, dan akhirnya pakai selimut untuk bantu Riku. Rasanya ingin punya 10 tangan supaya bisa melakukan semuanya sekaligus. Ini aku sudah terlatih deh untuk melakukan dua pekerjaan yang berbeda dengan satu tangan. Sulit memang menjadi seorang ibu. Untuk urusan barang kali ini tidak menjadi masalah karena Tina bantu aku untuk angkat barang. Tapi kalau misalnya tidak ada Tina? duhhh bagaimana nanti pulangnya ya? Que sera-sera deh.

Akhirnya setelah 7 setengah jam, kita landing dengan selamat di bandara Soekarno Hatta. Satu hal yang membuat aku senang dengan bandara Indonesia adalah dengan adanya sistem porter. Kalau di Jepang tidak ada sistem porter. Semua orang harus bertanggung jawab mengangkat kopernya sendiri dari luggage belt ke trolley. Dan aku harus mengalami mengangkat koper sendiri dalam keadaan hamil dan waktu menggendong bayi. Tidak ada orang Jepang yang membantu. This is what I called DINGIN. Nobody cares. Kalau ada porter, biarpun mahal aku akan bayar. Tapi tidak ada. Di sini bisa dirasakan bahwa uang tidaklah menyelesaikan segalanya (eh bisa deng kalau saya bayarin tiket  seseorang khusus untuk angkat-angkat koper…ayo siapa mau? tapi duitnya ngga ada tuh).

Setelah bertemu orangtua, Chris dan Andy, kita muat koper di dua mobil dan go home deh. Satu hal yang membuat aku sedih juga waktu melewati bundaran Senayan, yaitu berubahnya pemandangan akibat adanya Senayan City. Where is my old town?

(lucu deh si riku dan kai lagi bobo….ada suatu saat riku sebelah dalam dan Kai sebelah luar, sesudah 2-3 jam kedudukan berubah….kok bisa?)

Before we leave tokyo

23 Jul

Sebetulnya kami (or saya) berencana untuk menginap di yokohama 2 malam sebelum hari keberangkatan tgl 21 Juli lalu. Tapi karena Gen sakit kepala, jadi kami batalkan saja, karena toh masih ada hari. Cuma aku jadi repot pikirin masak makan malam apa. Berhubung hampir seluruh isi lemari es sudah aku buang siangnya. So, tidak boleh masak sesuatu yang nyisa. Satu-satunya solusi adalah spaghetti.

Tapi berkat penundaan keberangkatan ke Yokohama (rumah mertua) ini, saya bisa melanjutkan membersihkan rumah yang rasanya tidak habis-habisnya itu. Masih sempat kosek kamar mandi, cuci pakaian kotor terakhir, dan scan foto-foto Riku dan Kai. Sehingga Minggu pagi sekitar jam 9 kami bisa meninggalkan rumah dalam keadaan bersih. Saya selalu berusaha membersihkan rumah sebelum berangkat bepergian jauh. Pemikiran ini saya dapatkan dari mantan induk semang, Mrs K, yang selalu membersihkan sesuatu jika akan pergi ke LN. Dia bilang, “Supaya jika kita harus mati, tidak merepotkan pihak keluarga/teman yang ditinggalkan, karena semua sudah bersih, dan kita tidak malu (meskipun kalau sudah mati tidak punya perasaan malu lagi sih…)”. Karena itu biasanya tanda-tanda orang yang akan meninggal, adalah kebiasaan mendadak untuk membersihkan sekitarnya. Pikir punya pikir pandangan ini memang baguslah. Saya juga rasanya tidak mau jika nanti orang yang membereskan barang-barang saya untuk terakhir kalinya ngomel ngga keruan. (wahhhh gile… si imelda punya ini itu —buku atau video bokep misalnya—, diiih ada permen yang udah meleleh dalam tasnya…jorok banget sih dsb dsb… apalagi kalau ketemu bukti-bukti selingkuh hahaha, oooiii canda loh ini semua!!!). Wahh sambil menulis kalimat terakhir aku jadi ingat cerita The Bridges of Madison County ). Ahhh, Indah sekali percintaan mereka.


Kita berangkat dari rumah jam 9 pagi, dan begitu sampai di yokohama, kita pergi nyekar ke makam Nenek yang meninggal 3 tahun yang lalu. Sebetulnya ada peringatan 3 tahun meninggalnya, tapi karena dianggap kita sibuk, yang hadir hanya anak-anaknya saja…means bapak-ibu Gen dan Om-tantenya Gen, dan itu dilaksanakan tgl 7 Juli (hari biasa) yang lalu.

(Jonny Walker blue label  —— Kai pegang botol sake kosong di dapur….oioi…masih 19 tahun lagi baru kamu bisa minum itu loh)

Dari makam kita pulang ke rumah, dan start to drink (gawat deh dari siang udah nomikai). Papanya Gen kasih lihat minuman Jonny Walker blue label. Yang aku tahu biasanya Jonny Walker hanya black dan red. Take a sip and….sorry aku memang ngga bisa minum whisky dan yang sejenis. Sambil makan dan minum ngegossip, sampai akhirnya papanya Gen dan Gen teler, tidur siang.  So Lady’s talk start. Ibunya kasih rasa Mango Liquier. Biasanya aku ngga suka karena manis, but for a change lumayan. Dan kita berdua juga habisin satu botol white wine yang khusus, karena warnanya keruh, manis. Ibunya mulai teler, but aku belum. Satu-satunya selain anak-anak yang masih sadar, dan masih sempat beresin meja makan dan cuci piring. It was good. Sudah lama kami tidak bertemu dalam suasana santai (dan mabok) sehingga bisa bercerita tentang masalah-masalah keluarga tanpa malu-malu. I really love my japanese parents. And thank God that He gave me a really understandable in laws. Kalau dengar cerita-cerita dari pasangan campuran lain, biasanya memang masalah datang dari pihak keluarga, pihak orang tua yang berpikiran kolot. Aku memang sudah mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan-kemungkinan itu. But sampai saat ini aku tidak pernah mendapatkan masalah dari mereka.

Sisa hari Minggu dilewati dengan santai dan malam ditutup lebih cepat dari biasanya, karena kita harus bangun jam 5 pagi keesokan harinya. Tapi sebelum tidur, Gen ambil diapers dulu di mobil dan jalan-jalan sama riku melewati dinas pemadam kebakaran. Waktu riku lihat-lihat mobil pemadam yang ada, dia disapa oleh petugas nya dan ditanya, apakah mau naik…wahhhh riku senang sekali bisa pegang dan naik ke mobil pemadam. Papanya sampai iri karena sewaktu kecil, dia dan adiknya belum pernah sekalipun bisa mendapatkan pengalaman ini. dan oleh si petugas, Riku diberikan gambar tempel dan notes dengan gambar dinas pemadam kebakaran. Wah Riku senang sekali karena bisa pamer dengan teman-temannya di sekolah. Sayangnya Gen tidak bawa kamera maupun HP sehingga tidak bisa mengabadikan peristiwa yang langka ini.