Dua hari ini, hari senin dan selasa, aku menjadi ibu Indonesia. Senin pagi dari jam 5 pagi udah mulai masak. BAKSO!!!! Berhubung di sini ngga ada bakso, jadi kalau mau makan bakso musti ke Restoran Cabe di Meguro, atau buat sendiri. Dan sejak aku tahu resep membuat bakso dari ibu Letty Leksono, aku sudah 5 kali buat. Tapi berhubung dikasih tau ibu Kristin supaya pakai Kemiri dan bawang merah, jadi aku tambahkan kemiri 3 biji dan bawang merah 3 biji. kemiri nya disangrai dulu, lalu bersama bawang merah dan putih aku tumis dulu sebelum masukkan ke adonan. Sedangkan cara masukkan es batu yang ada di resep aku hilangkan, nggak mau repot hehehe. Lumayan juga hasilnya kok. Aku buat dari 1kg daging giling halal Haji Baba yang aku beli dari BUMBU-YA. Kalau lagi mau belanja bahan masakan Indonesia, aku tinggal pesan lewat email, minta dikirimkan dan aku bayar tagihannya lewat transfer bank (kalau aku dengan online).
Perlu Food Processor? Iya. Dulu, aku cuma punya blender/juicer aja. Waktu pakai untuk giling daging tidak bisa halus dan makan waktu banyak sekali, belum lagi mati-mati melulu. Jadi setiap kali mati dipencet tombol restart di bawah, dan itu cukup makan waktu. Selain ada rasa kasihan sama blendernya kerja keras. Kemudian hari Rabu minggu lalu aku beli deh Food Processor lewat amazon. Tadinya pikir pasti mahal, ternyata? Ada yang mahal banget ada yang murah banget. Kalau terlalu murah, malah jadinya takut cepat rusak ya. Jadi aku pilih yang sedikit di atas murah, sekitar 5500 yen (Rp440.000) sambil melihat komentar pembeli terdahulu. Lalu kemarin aku coba….wow. Cepat sekali jadi halusnya. Jadi kalau tidak beli daging giling, bisa juga langsung dari daging block biasa. Berkat FP itu juga aku bisa buat variasi makanan 離乳食 untuk kai. Langsung aku pakai untuk giling daging ayam dan buat bakso ayam sebesar 1 cm. Apalagi bisa potong sayur cepat sekali kan. Langsung jadi deh sup ayam untuk Kai.
Dan hari ini, Selasa, aku masak Ayam Bakar Padang, resep dari Dian yang kebetulan tinggal di Tokyo juga. Kayaknya ayam 800 gr tidak cukup deh. So aku buat 1 kg. Untung aku ada stok semua bumbu jadi lumayan rasanya …bukan lumayan …. enak !! Kayaknya sih kuncinya ada di Kayu manis. Asyik……… bisa buat satu lagi variasi masakan Indonesia. Juga nanti mau dipraktekin kalo aku mudik dan menjadi babu masak di jakarta.
NB 1: dasar guru bahasa jadinya sekalian mau memberitahukan sebuah penemuan baru hasil perbincangan dengan Mariko-san adik Jepang baruku, sedikit lebih tua usianya dari Kimiyo hehehe. Juga sama-sama lulusan BIPA UI, meski beda angkatan. So, teman-teman perhatikan deh betapa bagus bahasa Indonesia mereka (kimiyo sering komentar di sini, kalau Mariko san belum) Mungkin nanti saya akan buat posting khusus tentang mereka berdua ya. OK, penemuannya adalah asal usul kata BABU. Saya katakan pada Mariko bahwa Babu itu berasal dari bahasa Belanda Baboe. Kemudian kita browsing, dan memang benar Baboe adalah kata yang berasal dari bahasa belanda but….. awal mulanya baboe itu berarti gadis cantik(mooi meisje. Van oorsprong Maleis en van oudsher betekent het ‘kindermeisje’). Mengacu pada anak gadis/anak perempuan Indische, melayu. Jadi awalnya bukan berarti pembantu rumah tangga (pramuwisma) . Kata ini mengalami pergeseran nilai. Mungkin kalau masih ingat pelajaran bahasa Indonesia, ada beberapa kata yang awalnya bernilai baik, tapi kemudian mengalami penurunan derajat. Nah, Babu ini juga begitu. Seperti juga kata bibi, yang awalnya berarti tante, kemudian sering dipakai untuk memanggil prt yang berusia lanjut (tidak muda lagi). Jadi bibi jarang atau hampir tidak pernah dipakai sebagai panggilan tante lagi.
Hmmm, so mama dan papa, tunggu saja babu masaknya (bukan bibi masak loh… meskipun dilihat dari segi usia lebih pantas disebut bibi masak) akan datang ke sana ya. Bibi impornya minta satu kamar pakai AC loh. Lalu satu mobil sedan ber AC juga untuk pergi jalan-jalan sesudah masak…. hihihi
NB 2 : Kalau lihat kata selera, jadi teringat merek sambal jadi yang bernama “sambal selera”. Masih ada ngga ya? Aku ingat paling cocok pakai sambal ini kalau makan Kimlo, daripada sambal lampung yang pedes banget itu atau sambal ABC.
pengen dateng….kebetulan di jakarta…. ahhh kangen deh …tapi pergi sama sapa. Sabtu -minggu lagi….ngebayang macetnya aja deh. Ayoooo sapa mau jadi supir… C’mon HIMAJA 86 (Himpunan Mahasiswa Japanologi) sekalian reuni deh.


Kemarin hari minggu, tidak bisa posting….. sibuk deh urus anak dari pagi. Aku terbangun jam 4 dan tidak lanjtutin tidur lagi. Hari hujan…. Kabarnya mulai hari ini sampai seminggu hujan terus. Karena itu aku kemarin cuci baju-baju sampai 2 kali. Yah namanya juga TSUYU 梅雨, musim hujan. Aku tidak suka musim hujan di sini karena hujannya nanggung, sedikit lebih deras dari gerimis tapi seharian penuh… Kayaknya enakan di Indonesia, kalau hujan langsung byuuur yang deras lalu berhenti. Tapi indahnya tsuyu di sini adalah bunga Hydrangea. Bahasa Jepangnya AJISAI アジサイ. Warnanya beragam dari putih, pink, biru, ungu atau perpaduan dari itu. Aku pernah naik sepeda dan menemukan ajisai berwarna ungu tua …mendekati kehitaman. Sayang aku tidak bawa kamera jadi tidak bisa foto.
Sekitar jam 7 pagi aku pergi ke toko konbini (convinience store) Circle K dekat rumah. Ceritanya mau beli roti, telur dan snacks. Bete juga haru sabtu kemarin tidak ada snack… “Mama …nanika tabemono nai? amai mono toka….” Duh ditanyain terus sama Riku, ngga ada makanan kecil ya?. So sesudah beli keperluan +snack aku kembali ke rumah. Ternyata begitu buka pintu, Riku lari menghampiri, dan begitu liat kantong plastik belanjaan dia bilang…
“Mama…. aitakatta (kangen)…aku pikir mama pergi ke mana… aku cari-cari… beli apa?…. Riku tadi nangis loh pikir mama pergi sendiri tidak kembali.”
“Mama kan ngga bakal tinggalin kamu dan Kai sendiri”, Sambil aku lihat ternyata my hubby juga sudah bangun, abis merokok di balkon rumah. dia bilang ,”Ohh dari kombini ya…aku bobo lagi ya…”
Baru malamnya aku diceritakan bahwa Riku bangunkan dia sambil nangis, bilang mama ngga ada…udah cari di wc, di kamar sebelah, di balkon….. ngga ada. Lalu Gen temani Riku di kamar makan …ya sampai aku pulang tadi. Kasihan juga anakku, gara-gara aku suka ancam aku pulang ke jakarta sendiri kalau dia nakal.
Setelah kejadian itu, Riku jadi baik sepanjang hari… apa-apa terserah mama… Dan aku jaga ke dua anak sambil nonton tv. dan menelepon ke sana kemari urusan rapat mendatang. Dari pagi ada saja yang telepon. Papanya bangun jam 1…setelah itu makan pagi. Tadinya mau bawa mobil ke bengkel, tapi waktu aku telpon bengkelnya, bisa dibawa minggu depan aja. Soalnya seminggu ini suamiku tidak bisa kerja tanpa mobil.
Dan…. dia ingin sekali makan di restoran Indonesia. Aku sendiri agak malas karena…sudah tahu rasanya dan lagi dalam program penghematan. Aku bilang kalau kamu mau makan masakan Indonesia, aku masakin deh…. Trus dia bilang gini “Iya, kamu enak sebentar lagi ke jakarta, aku kan ngga” Aku jadi kasihan…. So hisashiburini kita pergi ke Restoran Cabe di Meguro. Jalanan cukup macet karena hujan, kita sampai sekitar jam 5:30 di sana. Sup buntut, nasi soto, sate mix, gado-gado dan untuk gen nasi goreng terasi. Pulang sekitar pukul 9 malam sampai rumah dan semua langsung gelepar tidur (kecuali aku masih harus beresin mainannya Riku dan tulis email undangan rapat untuk sabtu besok.)

Judul aslinya 「しょうぼうじどうしゃじぷた」. Aku teringat akan Picture Book ini, waktu aku melihat katalog koperasi Tokyo (Coop). Aku selalu belanja mingguan di koperasi ini, karena bisa pesan online. Di situ tertulis bahwa buku ini diterbitkan pertama kali bulan juni tahun 1966. Wow angka keramat 666. hiiiiii. Dan karena saya punya, saya cari buku itu. Tapi pas lihat ternyata bukan 1966, malahan lebih tua lagi yaitu 1963. Buku karangan Watanabe Shigeo - Yamamoto Tadayoshi ini memang terpilih menjadi buku wajib oleh Persatuan Perpustakaan Sekolah Jepang, sama seperti Picture Book Gajah yang pernah saya tulis. Yang buat buku ini menarik adalah, buku yang saya sering bacakan untuk Riku ini sebetulnya adalah buku papanya Riku ketika dia berusia 4 tahun 4 bulan. Tepatnya tahun 1974. Jadi buku itu sudah berumur 34 tahun !!! Pasti lebih tua dari jeunglala hihihi
So, siapa sih Jeepta ini? Jeepta adalah sebuah kendaraan Jeep yang dimodifikasi untuk menjadi mobil pemadam. Sebagai penghuni Pusat Pemadam Kebakaran kota, Jeepta paling tidak diperhatikan. Karena dia kecil, kalah keberadaannya dengan Noppo-kun, si mobil pemadam yang mempunyai tangga tinggiiiii sekali. Kalah juga dengan Pampu-kun, si mobil pemadam berbadan besar yang bisa menyemburkan air dnegan tekanan yang tinggi. Juga kalah dengan Ichimoku-san, si ambulan yang menghuni Pusat pemadam kebakaran kota, karena Ichimoku -kun berguna sekali untuk mengangkut orang yang luka-luka. Noppo-kun, Pamp-kun, Ichimoku-san selalu menyombongkan diri, mengatakan diri mereka yang paling berjasa jika terjadi kebakaran. Mendengar itu ciutlah hati Jeepta. Dia memang bukan apa-apa…… bahkan warga dan anak-anak yang berkunjung ke tempat mereka tidak melihat dengan sebelah mata keberadaan Jeepta di sana.
But, suatu hari terjadi kebakaran sebuah pondok di gunung. Jika tidak segera dimatikan, apinya akan mejalar dan menyebabkan kebakaran hutan!!! Kepala Pemadam memerintahkan Noppo-kun untuk berangkat. Tapi…. wait!! Noppo-kun tidak bisa kesana… tangganya tidak bisa mencapai pondok di gunung itu. Pampu-ku….. tidak bisa juga!….dia tidak bisa melewati jalan yang kecil. Ichimoku-san… Tidak perlu, karena tidak ada orang yang luka. “Jeepta….. Berangkat! Tanomuzo…. (Its your turn Jeepta)”.
Dengan sirine yang halus, Jeepta melewati jalan sempit mendaki gunung dan langsung menuju pondok gunung itu. Segera dia menyemburkan air ke arah pondok itu, dan api bisa segera padam. Kekhawatiran akan terjadi kebakaran hutan lenyap. Itu akibat jasa Jeepta.
Keesokan harinya surat kabar memberitakan peristiwa kebakaran itu, dan mengucapkan terima kasih pada Jeepta. Jeepta menjadi pahlawan! Dan sejak itu dia bisa berbesar dada, berbaris dengan teman-temannya di Pusat Pemadam Kebakaran dan dengan gagah menyambut kedatangan pengunjung yang ingin bertemu dnegannya. Meskipun kecil, Jeepta berjasa besar.
Anda bisa mengerti bukan, mengapa buku ini ditunjuk sebagai buku wajib? Inti dari cerita ingin mengajarkan anak-anak agar tetap berbesar hati, meskipun kecil dan tidak berguna, suatu saat pasti akan berguna. Buku terbitan Fukuinkan Shoten ini ditujukan untuk anak berusia 4 tahun ke atas seharga 300 yen (tidak tahu sekarang brp). Saya juga heran di hampir smeua buku anak-anak pasti tertulis buku itu cocok untuk usia berapa. Hebat ya, bisa menentukan batasan begitu, sehingga konsumen tidak bingung juga untuk memilih buku mana yang pantas untuk usia anaknya.
Satu lagi Picture Book yang saya rasa bagus untuk diterjemahkan dan diperkenalkan pada anak-anak Indonesia. Tapi….. sulit juga ya, karena saya jarang lihat mobil pemadam kebakaran Indonesia. Apakah canggih? apakah sudah ada jenis-jenis mobil pemadam yang di Jepang ada sejak 1963? Saya benar-benar tidak tahu….
Eittssss, setelah bersitegang dengan suami saya yang mengatakan “seandainya pun mobil pemadam kebakaran seperti Noppo-kun dan Pampu-kun tidak ada di Indonesia, kan bisa memperkenalkan melalui buku itu. Coba cari keterangan keadaan mobil pemadam kebakaran di Indonesia.” Dan saya ketemu Dinas Pemadam Kebakaran Jakarta yang ternyata mempunyai 132 mobil Pompa dan 8 mobil tangga. Itulah akibat terlalu meremehkan negara kita. Prejudice lagi
Maaf yah….
Pasti pada berpikir, judul kok aneh begitu. Ceritanya posting ini mau menjawab pertanyaannya Ai-san mengenai perbedaan sapaan (atribut) orang Jepang (gara-gara nonton Naruto tuh hihihi).
Semoga Ai-san dan mungkin yang lain yang sedang belajar bahasa Jepang bisa mendapat pencerahan hihihi.
BTW, hari ini adalah hari peringatan seorang pengarang Jepang terkenal yang bernama Dazai Osamu. Dia lahir tanggal 19 Juni 1909, dan meninggal (bunuh diri) tgl 13 Juni 1948 dalam usia 38 tahun. Karyanya yang berjudul Ningen Shikkaku yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi No Longer Human. Kalau terjemahan harafiahnya “tidak memenuhi syarat menjadi manusia”. Buku ini kabarnya merupakan novel terlaris/ternama ke dua di Jepang, setelah “Kokoro” karangan Natsume Soseki. Pengarang ini benar-benar terobsesi pada kematian dan bunuh diri. Yang heran banyak orang Jepang yang suka, termasuk suami saya. Terus terang saya belum pernah baca karyanya, dan sepertinya kok malas ya membaca karya orang yang bunuh diri. prejudice lagi

Hari ini ada acara panenan kentang di TK nya Riku. Setiap bulan Juni memang waktunya panen Kentang, dan sebagai bagian dari kurikulum TK nya, setiap Juni diadakan acara menggali kentang di kebun milik warga dekat TK tersebut. Tentu saja karena mereka tidak menanam, pasti membayar biaya. Biayanya sudah termasuk uang sekolah, jadi tidak dipungut biaya ekstra lagi. Setiap anak harus membawa sarung tangan untuk mengambil kentang dari tanah, lalu kantong plastik untuk membawa pulang kentang yang sudah diambil. Dan juga harus membawa sepatu boot supaya tanah tidak masuk ke dalam sepatu.
Hari ini ada 8 kelas, dan besok ada 3 kelas yang akan pergi ke ladang itu. Setiap kelas mendapat waktu 15 menit. Karena anak-anak belum terbiasa berladang, maka ada beberapa orang tua murid yang mendampingi untuk membantu anak-anak. Dulu waktu Riku masih di Hoikuen (Penitipan/playgroup bukan TK) pernah juga memanen ketimun dan tomat. Kegiatan seperti ini pasti ada di setiap sekolah Jepang. Kalau sudah SD ada yang bahkan pergi menanam padi, dan musim panas pergi memanennya. Ladang atau sawahnya milik masyarakat sekitar. Jadi ada kerjasama antara sekolah dan warga sekitar. Setahu saya tidak ada kegiatan seperti ini dalam kurikulum sekolah di Indonesia, padahal dengan pergi terjun langsung ke ladang, banyak yang bisa dipelajari. Tapi mungkin sekolah Indonesia tidak mau “membuang waktu” hanya untuk berlumpur-lumpur hehhee.
So, hari ini Riku bawa pulang sekitar 2,5 kg kentang hasil panenannya. Tahun lalu lebih berat lagi panenannya, ada mungkin 3,5 kg lebih. Kasihan juga anak-anak harus bawa seberat itu. Sekarang saya sedang pusing pikir jenis masakan yang memakai kentang, karena baru saja minggu lalu saya beli 5 kg kentang….lupa bahwa Riku ada acara ini. Fried Potatoes, perkedel, sup sayuran, potato salada dll. (apa lagi ya…)
Sesudah jemput Riku dari TK, kita pergi ke RS untuk pemeriksaan kesehatan berkala (10 bulan) untuk Kai dan vaksin MR untuk Riku. Riku sejak kecil tidak pernah nangis kalau disuntik. Kai juga lolos pemeriksaan 10 bulan. Tapi karena dia belum bisa berdiri, maka nanti sebulan lagi harus periksa. Yah sebetulnya Kai sekarang sudah 11 bulan, tapi kalau dihitung dari due datenya sebetulnya dia sekarang baru 9 bulan. Yang penting kedua anakku ini sehat-sehat saja.
Kali ini saya mau posting khusus mengenai onigiri atau bahasa Inggrisnya Rice Ball, dan saya mengatakannya dalam bahasa Indonesia adalah nasi kepal, karena dibuatnya dnegan mengepalkan tangan, meskipun besarnya belum tentu sekepalan tangan (boleh juga sih…. yang big size ya hihihi). Onigiri juga sering disebut dengan omusubi, atau nigirimeshi. Nasi kepal ini mudah dibuat, enak dan mengenyangkan. Saya posting ini sambil teringat Eva, Jeng lala, Ai dan teman-teman lain yang mungkin mau coba buat. Atau untuk Bang Hery, Mas trainer mungkin yang mau memanjakan istri, atau bahkan mas Hangga untuk memikat gadis-gadis.
Hari ini adalah hari yang paling tepat posting mengenai Onigiri, karena ternyata hari ini adalah hari Onigiri, menurut masyarakat dari Prefektur Ishikawa. Prefektur ini menghasilkan beras yang pulen dan enak. Beras diperingati setiap tanggal 18 dan kenapa bulan juni peringatan onigiri? Karena ada sebuah daerah di Prefektur Ishikawa yang bernama Rokuseimachi yang dianggap sebagai kampung halamannya onigiri, akibat ditemukannya fosil onigiri tertua disebuah perumahan dari tanah liat (pithouse). Dan ditetapkan bulan juni karena bulan juni = rokugatsu , roku nya merupakan kata pertama dari nama kota tersebut (huh asal bunyi sama …gitu aja alasannya).
Beras yang enak tentu menentukan rasa dari onigiri itu sendiri. Beras jepang termasuk dalam keluarga japonica sehingga pulen dan bisa menyatu jika dipadatkan, berlainan dengan beras indica. Karena itu jika Anda yang berada di Indonesia ingin membuat onigiri, saya sarankan Anda membeli beras Jepang (pasti mahal) atau mencampur beras indonesia dengan beras ketan dengan perbandingan 3:1. (Dicoba saja nanti sendiri perbandingan yang tepat karena tentu saja beras di Indonesia berbeda kepulenannya berdasarkan jenis/mereknya) . Begitu beras tanak, biarkan sebentar supaya uap air yang tersisa bisa menguap. Kemudian ambil nasi tersebut sebanyak yang mau dibuat sebagai onigiri. Jangan lupa basahkan tangan. Tangan yang basah penting sekali untuk membuat onigiri. Karena di musim panas bakteri mudah berkembang biak, perhatikan kebersihan tangan sebelum membuat onigiri. Juga jangan memakai air ledeng untuk membasahkan tangan di Indonesia (kalau di Jepang sih air ledeng bisa diminum sehingga tidak menjadi masalah). Jika Anda suka, Anda bisa menaburkan sedikit garam pada telapak tangan Anda. (Kalau saya tidak begitu suka asin …mengurangi garam untuk kesehatan sehingga tidak pernah memakai garam) Nasi panas itu dikepalkan setengah jadi dan bagian tengah dibuat lubang untuk mengisi “lauk/daging” yang akan dimasukkan. Setelah lauk itu ditaruh di tengah-tengah, lanjutkan kembali dengan menutup lauk tersebut dan buat bentuk onigiri yang diinginkan. Onigiri ada bermacam bentuk, tapi yang lazim adalah segitiga. Ada pula yang berbentuk bulat gepeng seperti perkedel. Setelah nasi menjadi padat dan berbentuk tutupi dengan nori (rumput laut kering) jika suka. Saya tahu banyak orang Indonesia yang tidak begitu suka nori, sehingga buat mereka yang tidak suka, tidak perlu ditutup dnegan nori. Kalau mau, bisa juga menutup nasi kepal dengan wijen putih atau hitam. Wijen yang segar dapat menambah aroma dan rasa yang enak pada nasi kepal tersebut.
Nah, sekarang apa saja sih yang bisa dimasukkan dalam onigiri? Banyak!! Tapi yang terumum di Jepang adalah Umeboshi (buah plum kering), serpihan Ikan tuna begitu saja atau dicampur dengan mayoneise, telur ikan mentaiko/tarako mentah atau dibakar dan okaka (serutan ikan tuna kering - katsuobushi). Selain memasukkan lauk tadi secara utuh di tengah onigiri, Anda bisa mencampurnya dulu pada nasi sebelum dikepal. Biasanya di Jepang jenis-jenis sayuran kering/ wakame (gagang laut) atau ikan teri nasi mentah/goreng yang paling banyak dijadikan campuran dalam nasi tersebut. Pokoknya hampir semua bahan makanan/daging yang cocok dimakan dengan nasi bisa dijadikan “lauk/daging” dari onigiri. Daging sukiyaki, semur, susis, ikan sardin, ayam cincang bumbu kecap ….whatever lah.
Variasi untuk di Indonesia misalnya :Coba deh masukkan corned beef begitu saja atau dicampur mayoneise dulu…pasti enak. Atau abon sapi…. hmmm yummy. Mustinya sih kalau dimasukkan keringan tempe juga enak, tapi saya belum coba karena tempe mahal sekali di sini. Pokoknya cobalah buat onigiri versi Anda sendiri… Dan kalau ada teman yang mau membuka usaha restoran, bisa juga nih coba usaha restoran ONIGIRI…saya yakin pasti laku deh. Di sini saja banyak kok warung onigiri yang bisa makan di situ sambil berdiri.
Sebagai pendamping onigiri biasanya disajikan acar-acaran. Kalau di Jepang ada Takuwan (acar lobak yang berwarna kuning) yang praktis, atau kalau di restoran tentu saja ada tsukemono (acar) dari bermacam-macam sayur, seperti terong, ketimun, lobak putih, sawi dsb. Kalau untuk orang Indonesia, mungkin lebih cocok dengan acar ketimun/wortel. Selain acar, juga bisa disajikan dengan sup miso yang panas…. hmmm jadi lapar nih. ITADAKIMASU (artinya saya makan yahhhh)
So…silakan coba. Yang penting adalah Nasi panas dan tangan basah. Tak ada daging? Garam saja cukup kok.
Entah kenapa kok sekarang sambil nulis begini saya membayangkan onigiri yang isinya tempe bakar, yang ditumbuk dengan cabe rawit….. duh kangen tempe…..hiks…. (sabar…. sebulan lagi bisa makan tempe sepuasnya). Trus… supnya sayur bening hihihi. Ini mah bukan masakan Jepang lagi, udah menu masakan Indonesia dengan Nasi kepal. hihihi
Kemarin satu harian aku teler lagi. Aku harus membuat paspor untuk Kai dan memperpanjang paspornya Riku. Kantor Imigrasi yang terdekat di Tachikawa, so aku minta tolong Mariko san temani aku ke sana. Kita berangkat dari rumah jam 10:30 pagi. Beli kartu pos 2 lembar ditulis nama Kai dan Riku untuk pemberitahuan kalau paspornya jadi. Sesudah itu naik bus ke Kichijoji. Tidak sangka busnya jam segitu penuh, tapi untung aku dapat tempat duduk. Aku gendong Kai terus, sedangkan baby carnya dilipat. Mariko san bertugas temani Riku.
Sesampai di stasiun Kichijoji, aku mampir ke Bank dulu. Sayangnya Banknya persis di depan Mac Donalds. Ya sudah, karena belum sarapan pagi juga, jadi kita makan di Mac dulu. Riku minta Happy Set untuk anak-anak karena dapat mainan Naruto. Jadi aku dan Mariko juga pesan Happy set supaya Riku bisa dapat mainannya jadi 3. Sesudah makan kita cari Photo Studio untuk buat pas photo. Tapi karena musti antri dan tidak bisa langsung jadi, kita akhirnya langsung pergi ke Tachikawa.
Kantor Imigrasi yang di sini lumayan praktis, karena ada di gedung di atas Stasiun, yang menjadi satu dnegan Departement Store Lumine, lantai 9. Aku ingat dulu kita juga buat pas foto untuk Riku di sini. Ada studio persis di sebelah kantor imigrasi itu. Benar saja, untuk seorang dapat 2 lembar pas foto langsung jadi harganya 1500 dan tidak dapat negatifnya. Lumayan juga hasilnya.

Dari situ aku langsung ambil formulir permohonan 2 lembar untuk paspor yang berlaku 5 tahun. Ada 2 jenis paspor Jepang yaitu yang 5 tahun dan 10 tahun. Karena mulai tahun ini memakai sistem IC, ongkos pembuatan jadi lebih mahal 1000 yen dibanding dulu. Untuk 5 tahun seharga 11.000 yen, sedangkan yang 10 tahun 16.000 yen. Sebetulnya aku agak kesal dengan suamiku, abis masa aku yang warga negara Indonesia musti urus dua anak yang wn jepang. Aku agak khawatir kalau nantinya ada masalah dengan perbedaan kewarganegaraan. Tapi untung saja tidak, karena yang penting nama aku ada di daftar Kartu Keluarga (Koseki Tohon).
Setelah isi dua formulir tentu saja pakai Kanji…aku ambil nomor. Di situ diperkirakan kita akan dipanggil 1 jam lagi. Jadi Riku dan Mariko pergi ke toko buku di lantai 8, sedangkan aku ganti popoknya Kai dan tunggu di ruang tunggu. Benar saja sekitar sejam kemudian nomor kita dipanggil. Setelah mencocokkan data di dokumen dengan data yang tertulis di formulir, petugas imigrasinya juga melihat kartu asuransi dan ID card aku. Beres deh semua. Paspornya tinggal diambil seminggu yang akan datang dengan membawa kartu pos dan ternyata biaya untuk anak-anak mendapat keringanan yaitu hanya 6000 yen saja. siiip.
Riku sudah mulai bosan, dan kita mulai berjalan pulang. Tapi tiba-tiba dia bilang lapar!! Ya sudah kita kembali lagi ke gedung Lumine ke bagian restoran untuk cari makan. Tapi dia maunya makan di restoran western, sedangkan aku dan Mariko maunya ke resto vietnam. Untung saja dia bisa dibujuk untuk pergi ke resto Vietnam…gomenne Riku. Bakmi Pho nya di situ enak deh, lain kali kalau ada kesempatan mau ke situ lagi. Oh ya sebelum pulang kita sebetulnya juga mau beli donut Krispy Kreme. Katanya saking terkenalnya, di daerah Shinjuku harus antri kalau mau beli. Masak segitunya sih….Kita coba ke toko itu, dan ternyata memang benar harus antri 25 menit …welehhh aku sih ngga segitu-gitu amat dengan makanan sampai tahan tunggu 25 menit. Jadi kita batalkan beli donut itu. Tapi sebtulnya penasaran juga, emang apa sih istimewanya? Nanti kapan-kapan kalau tidak perlu antri, saya akan coba beli dan buat laporan gourmet ya hihihi. (Mariko cerita soal toko donut di jkt JCo? namanya aku lupa. Papa memang suka tuh dan sering beli katanya. Aku pernah coba, tapi tidak terlalu suka karena manissssss).
Sampai di Kichijoji kembali, kita beli nendo (apa sih bhs Indonesia ini? gips? karet? yang bisa dibentuk-bentuk tuh) untuk Riku, lalu pulang naik taksi. Udah telerrrrr. Sampai di rumah saja sudah jam setengah 6. Mariko san bermain nendo sama Riku sampai jam 7 malam. Capek tapi mungkin karena kecapekan jadi anak-anak malah tidak bisa tidur sampai jam 9:30. Aku baru bisa lega jam 10… buka komputer lalu balas email dll.
Berlalu deh satu hari lagi… (Oh ya Kai hari ini persis 11 bulan) *** 16 Juni 2008
Saya rasa mulai kemarin dosen pembimbing saya boleh lega. Atau keluarga dari Nakamura san, dan yang paling lega mustinya Nakamura san sendiri. Siapa sih si Nakamura san ini?
Dia adalah mahasiswa (katanya sih hampir DO) dari Yokohama National University yang ditawan kelompok bersenjata di Iran selama hampir 8 bulan. Kok bisa sampai sana? Tidak Jelas juga, karena tadinya dia ada di Pakistan untuk kegiatan sukarela. Nah dia ini kebetulan sebelum cuti kuliah, terdaftar di seminar (jurusan) nya mantan dosen pembimbing saya. Karena ada kejadian ini, pada awalnya banyak wartawan yang haus berita menunggu di depan kantornya dosen saya ini. Padahal kita punya kebiasaan untuk bertemu 6 bulan sekali pas ada festival universitas. Karena kondisi ini kamipun tidak bisa leluasa berkunjung ke kantor sang dosen. Padahal tadinya saya sudah rencana mau ajak Kai dan Riku tentunya berkunjung di awal bulan juni kemarin, tapi acara pertemuannya batal. Dengan adanya berita dibebaskannya Nakamura san ini, yang pasti pertama kali dosen saya bisa tidur lelap tanpa diganggu nyamuk pers. Dan semoga saya bisa mengikuti reunian lagi dalam waktu dekat (biasanya bulan Juni dan November).
So, buat mahasiswa-mahasiswa hati-hati ya kalau bekerja sukarela atau kalau mau ber-backpacker hati-hati kalau pergi ke daerah rawan seperti Iran, Iraq dll.
Mungkin di Indonesia hari Ayah tidak diperingati, tapi di Amerika dan Jepang, kami memperingati Hari Ayah dan Hari Ibu. Kalau hari Ibu adalah hari Minggu di minggu kedua bulan Mei, Hari Ayah adalah hari Minggu di minggu kedua bulan Juni. Karena tanggal 1 Juni jatuh pada hari Minggu, maka ditetapkan hari Ayah itu tanggal 15 Juni, berarti kemarin ya. Karena kemarin saya sibuk mencuci baju, tirai, selimut dan sprei sampai 4 kali pakai mesin cuci, jadi tidak ada waktu untuk posting.
Di Jepang, panggilan ayah ada beberapa macam. Otosan お父さん(おとうさん)biasanya untuk ayahnya orang lain (hint= semua yang pakai san bukan untuk diri-sendiri). Jadi untuk ayah sendiri pakai chichi 父 (ちち). Tentu saja pengaruh dari luar bisa juga memanggil papa パパ。 Nah kalau anak kecil biasanya panggil papa, tapi kalau sudah menjadi remaja biasanya memanggil ayahnya dengan Oyaji (kalau panggil papanya langsung) atau chichioya jika membicarakan ayahnya pada orang lain 親父 (おやじ) (ちちおや).
Nah, ada sebuah survey yang menanyakan kapan seorang anak laki-laki berhenti memanggil ayahnya dengan papa dan berubah menjadi Oyaji. Ternyata perubahan itu terjadi waktu SMP dengan jawaban 33%. Alasannya, malu memanggil “papa” , atau karena lingkungan sekitar semua memanggil begitu, atau mulai SMP itu ingin berbicara pada ayahnya secara man-to-man. Nah, jadi bagi ayah yang tiba-tiba mendengar dirinya dipanggil sebagai oyaji oleh anak laki-lakinya, berarti anaknya sudah menjadi dewasa dan ingin diperlakukan sebagai laki-laki dewasa juga.
Kalau dalam bahasa Indonesia, saya rasa tidak ada perubahan panggilan terhadap ayahnya sendiri. Jika dari kecil panggil papa, mustinya sih tidak akan berubah. Lagipula panggilan ayah berbeda menurut daerahnya. Mungkin ada yang memanggil Babe, Abah, Ayah, Daddy (hihihi ogah ah saya panggil daddy kayaknya kok foreign banget ya), Papa, Papi….dsb. Kalau saya memanggil ayah saya dengan “papa”, bagaimana Anda memanggil ayah Anda?
小さい頃は「お父さん」や「パパ」と呼んでいたのに、いつの頃からか「親父」と呼び方が変わっていることに気が付く男性は多いのでは? そこでオリコンで は、現在「親父」と呼んでいる、中・高校生~40代の男性を対象に『いつ頃から父親のことを“親父”と呼ぶようになったか?』について調査。その結果、全 世代に渡って【中学生の頃から】(33.0%)が最も多いという結果となった。男の子が「親父」へと呼び変えるターニングポイントは、どうやら“中学時 代”が一般的のようだ。
その理由を探ってみると、「それまで“パパ”と呼んでいたが、中学生頃になって急に恥ずかしくなったから」(静岡県/中・高校生)、「周囲がそ う呼び出したので」(大阪府/40代)といった意見が多く、ちょうど思春期を迎えるこの年頃になると、今までの呼び方では照れくさくなるのが男の常のよう だ。また、「中学生くらいになると、父親と対等に話したいと思うようになったから」(静岡県/20代社会人)というコメントからも男心が感じられる。
【中学生の頃から】に続いて票数が多かったのは、順に【高校生の頃から】(27.7%)、【19~20歳の頃から】(12.8%)、【21~25歳の頃】(11.7%)という結果に。最近、息子から急に「親父」と呼ばれるようになったお父さんがいたら、それは子供の成長の証といえるかもしれません!
(5月23日~5月27日、自社アンケート・パネル【オリコン・モニターリサーチ】会員の中で、現在父親のことを「親父」と呼んでいる、中・高校生、専門・大学生、20代社会人、30代、40代の男性、103人にインターネット調査したもの)