Kentang

Hari ini ada acara panenan kentang di TK nya Riku. Setiap bulan Juni memang waktunya panen Kentang, dan sebagai bagian dari kurikulum TK nya, setiap Juni diadakan acara menggali kentang di kebun milik warga dekat TK tersebut. Tentu saja karena mereka tidak menanam, pasti membayar biaya. Biayanya sudah termasuk uang sekolah, jadi tidak dipungut biaya ekstra lagi. Setiap anak harus membawa sarung tangan untuk mengambil kentang dari tanah, lalu kantong plastik untuk membawa pulang kentang yang sudah diambil. Dan juga harus membawa sepatu boot supaya tanah tidak masuk ke dalam sepatu.

Hari ini ada 8 kelas, dan besok ada 3 kelas yang akan pergi ke ladang itu. Setiap kelas mendapat waktu 15 menit. Karena anak-anak belum terbiasa berladang, maka ada beberapa orang tua murid yang mendampingi untuk membantu anak-anak. Dulu waktu Riku masih di Hoikuen (Penitipan/playgroup bukan TK) pernah juga memanen ketimun dan tomat. Kegiatan seperti ini pasti ada di setiap sekolah Jepang. Kalau sudah SD ada yang bahkan pergi menanam padi, dan musim panas pergi memanennya. Ladang atau sawahnya milik masyarakat sekitar. Jadi ada kerjasama antara sekolah dan warga sekitar. Setahu saya tidak ada kegiatan seperti ini dalam kurikulum sekolah di Indonesia, padahal dengan pergi terjun langsung ke ladang, banyak yang bisa dipelajari. Tapi mungkin sekolah Indonesia tidak mau “membuang waktu” hanya untuk berlumpur-lumpur hehhee.

So, hari ini Riku bawa pulang sekitar 2,5 kg kentang hasil panenannya. Tahun lalu lebih berat lagi panenannya, ada mungkin 3,5 kg lebih. Kasihan juga anak-anak harus bawa seberat itu. Sekarang saya sedang pusing pikir jenis masakan yang memakai kentang, karena baru saja minggu lalu saya beli 5 kg kentang….lupa bahwa Riku ada acara ini. Fried Potatoes, perkedel, sup sayuran, potato salada  dll. (apa lagi ya…)

Sesudah jemput Riku dari TK, kita pergi ke RS untuk pemeriksaan kesehatan berkala (10 bulan) untuk Kai dan vaksin MR untuk Riku. Riku sejak kecil tidak pernah nangis kalau disuntik. Kai juga lolos pemeriksaan 10 bulan. Tapi karena dia belum bisa berdiri, maka nanti sebulan lagi harus periksa. Yah sebetulnya Kai sekarang sudah 11 bulan, tapi kalau dihitung dari due datenya sebetulnya dia sekarang baru 9 bulan. Yang penting kedua anakku ini sehat-sehat saja.

9 gagasan untuk “Kentang

  1. Ersis Warmansyah Abbas

    Wah wah … itulah pendidikan sesungguhnya. Pantas saja Jepang itu hebat ya. Kentang … oh kentang, manfaat buat pelajar, berjasa buat kesehatan.

    bener pak EWA. meskipun pendidikan Jepang tidak terlepas dari masalah, tapi secara kurikulum saya merasakan keseimbangan antara teori dan praktek.

    Balas
  2. Hery Azwan

    Anak2 pasti enjoy banget dengan acara seperti ini. Sekolah Indonesia seyogyanya lebih banyak menyusupkan kegiatan seperti ini. Jadi, apa yang diceritakan Toto-chan sebagian memang masih berlangsung di sekolah2 Jepang sampai saat ini ya Ime-chan.

    seharusnya begitu. tapi yah yoyu nai (tidak ada waktu/ruang/tempat) untuk mikirin gini oleh pemerintah

    Balas
  3. Oemar Bakrie

    Di Perancis suatu ketika sekelompok anak TK, SD klas 1-2 ditanya tentang di mana kita menanam wortel dan sayuran lainnya, banyak yg menjawab “di supermarket … ” ternyata banyak anak2 yg sudah tidak kenal asal-usul hal-hal seperti itu ya ?

    Iya pak, bahayanya begitu. Dan mungkin kota besar di Indonesia yang anak2nya cuman tau TV dan game kelak juga akan begitu.

    Balas
  4. ai

    ikkyu san, ai mo tanya neh..tadi habis nonton naruto yang bhs jepangnya, trus disitu ada nama sakura san, sakura chan, sasuke kun, tsunade sama, trus…hmmm ada nama orang yang pake akhiran dono. itu apa bedanya sih…???trus penggunaannya pada saat apa…?? tadi juga ada nama akhiran yang dipake buat orang yg udah sangat tua (lupa ai apa namanya)mohon penjelasannya…arigatou

    wah, emang guru bahasa Jepangnya ngga ngajarin ya? ntar saya tulis di posting aja sekalian ya. nanti kepanjangan kalo di sini.

    Balas
  5. ipk4cumlaude

    Waah…mba imel, seru sekali ya pendidikan di Jepang. Pendidikan Indonesia? Ngga usah dibahas kalau terlalu mengutamakan otak kiri (eh dibahas juga)

    heheheh iya seru. Meskipun kadang merepotkan orang tua karena harus sediakan ini itu. Tapi saya lagi enjoy tunggu Riku SD, pengen ikut belajar sama dia ….

    Balas
  6. nh18

    HHmmm …
    aku baru kenal ladang dan sawah …
    ketika mahasiswa …

    🙂
    Telat sangat ya ???

    saya malah ngga pernah berladang 🙂 cuman tahu aja.

    Balas
  7. Lala

    Saya nggak mau banding2in kurikulum kita dengan Jepang… takut nangis 😀

    Saya mau kasih saran aja buat EmiChan. Untuk ngabisin kentang itu, dimasak model ini ajah:
    1. Kroket
    2. Pastel tutup
    3. Keik Kentang (ditumbuk, kasih susu dan mentega yang banyak.. yummy!)
    4. Daging Lapis Kentang…. Apalagi kalo kentang diiris tipis dan digoreng renyah! uenakkk…
    5. Baked potatoes… Tambahin lelehan keju.. uuhh.. dahsyat men…

    Apalagi yaaahhh..
    Aduh, saya jadi laper nih.. tulluuunnnnggggg…. :mrgreen:

    asyik ada ide-ide baru untuk masakan kentang. makasih ya jeng

    Balas
  8. Wempi

    dulu wempi sekolah di kampung masih bisa belajar bertani, tapi kalo dikota sepertinya gak ada. mungkin karena dikota keterbatasan pada lahan dan panas yang terik.

    iya anak-anak kampung malah lebih berpengetahuan ttg alam daripada anak kota

    Balas
  9. Hery Azwan

    Aku beruntung pernah tinggal di kampung/kebun. Di dekat rumah kami ada sawah yang sering saya jadikan tempat mancing ikan gabus, dan betik (betok). Setiap hari, pasti ada aja ikan yang nyangkut. Tetapi biasanya, setelah panen, ikan mulai hilang…Akhirnya kita pindah ke sawah yang lain atau mancing di rawa2 yang tidak ada padinya. Ehm…pengalaman yang menyenangkan. Apalagi, kita harus mencari umpan sendiri, bisa cacing atau kodok kecil (bancet). Wah, Riku pasti senang bisa mancing di sawah…

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *