Paspor

Kemarin satu harian aku teler lagi. Aku harus membuat paspor untuk Kai dan memperpanjang paspornya Riku. Kantor Imigrasi yang terdekat di Tachikawa, so aku minta tolong Mariko san temani aku ke sana. Kita berangkat dari rumah jam 10:30 pagi. Beli kartu pos 2 lembar ditulis nama Kai dan Riku untuk pemberitahuan kalau paspornya jadi. Sesudah itu naik bus ke Kichijoji. Tidak sangka busnya jam segitu penuh, tapi untung aku dapat tempat duduk. Aku gendong Kai terus, sedangkan baby carnya dilipat. Mariko san bertugas temani Riku.

Sesampai di stasiun Kichijoji, aku mampir ke Bank dulu. Sayangnya Banknya persis di depan Mac Donalds. Ya sudah, karena belum sarapan pagi juga, jadi kita makan di Mac dulu. Riku minta Happy Set untuk anak-anak karena dapat mainan Naruto. Jadi aku dan Mariko juga pesan Happy set supaya Riku bisa dapat mainannya jadi 3. Sesudah makan kita cari Photo Studio untuk buat pas photo. Tapi karena musti antri dan tidak bisa langsung jadi, kita akhirnya langsung pergi ke Tachikawa.

Kantor Imigrasi yang di sini lumayan praktis, karena ada di gedung di atas Stasiun, yang menjadi satu dnegan Departement Store Lumine, lantai 9. Aku ingat dulu kita juga buat pas foto untuk Riku di sini. Ada studio persis di sebelah kantor imigrasi itu. Benar saja, untuk seorang dapat 2 lembar pas foto langsung jadi harganya 1500 dan tidak dapat negatifnya. Lumayan juga hasilnya.

Dari situ aku langsung ambil formulir permohonan 2 lembar untuk paspor yang berlaku 5 tahun. Ada 2 jenis paspor Jepang yaitu yang 5 tahun dan 10 tahun. Karena mulai tahun ini memakai sistem IC, ongkos pembuatan jadi lebih mahal 1000 yen dibanding dulu. Untuk 5 tahun seharga 11.000 yen, sedangkan yang 10 tahun 16.000 yen. Sebetulnya aku agak kesal dengan suamiku, abis masa aku yang warga negara Indonesia musti urus dua anak yang wn jepang. Aku agak khawatir kalau nantinya ada masalah dengan perbedaan kewarganegaraan. Tapi untung saja tidak, karena yang penting nama aku ada di daftar Kartu Keluarga (Koseki Tohon).

Setelah isi dua formulir tentu saja pakai Kanji…aku ambil nomor. Di situ diperkirakan kita akan dipanggil 1 jam lagi. Jadi Riku dan Mariko pergi ke toko buku di lantai 8, sedangkan aku ganti popoknya Kai dan tunggu di ruang tunggu. Benar saja sekitar sejam kemudian nomor kita dipanggil. Setelah mencocokkan data di dokumen dengan data yang tertulis di formulir, petugas imigrasinya juga melihat kartu asuransi dan ID card aku. Beres deh semua. Paspornya tinggal diambil seminggu yang akan datang dengan membawa kartu pos dan ternyata biaya untuk anak-anak mendapat keringanan yaitu hanya 6000 yen saja. siiip.

Riku sudah mulai bosan, dan kita mulai berjalan pulang. Tapi tiba-tiba dia bilang lapar!! Ya sudah kita kembali lagi ke gedung Lumine ke bagian restoran untuk cari makan. Tapi dia maunya makan di restoran western, sedangkan aku dan Mariko maunya ke resto vietnam. Untung saja dia bisa dibujuk untuk pergi ke resto Vietnam…gomenne Riku. Bakmi Pho nya di situ enak deh, lain kali kalau ada kesempatan mau ke situ lagi. Oh ya sebelum pulang kita sebetulnya juga mau beli donut Krispy Kreme. Katanya saking terkenalnya, di daerah Shinjuku harus antri kalau mau beli. Masak segitunya sih….Kita coba ke toko itu, dan ternyata memang benar harus antri 25 menit …welehhh aku sih ngga segitu-gitu amat dengan makanan sampai tahan tunggu 25 menit. Jadi kita batalkan beli donut itu. Tapi sebtulnya penasaran juga, emang apa sih istimewanya? Nanti kapan-kapan kalau tidak perlu antri, saya akan coba beli dan buat laporan gourmet ya hihihi. (Mariko cerita soal toko donut di jkt JCo? namanya aku lupa. Papa memang suka tuh dan sering beli katanya. Aku pernah coba, tapi tidak terlalu suka karena manissssss).

Sampai di Kichijoji kembali, kita beli nendo (apa sih bhs Indonesia ini? gips? karet? yang bisa dibentuk-bentuk tuh) untuk Riku, lalu pulang naik taksi. Udah telerrrrr. Sampai di rumah saja sudah jam setengah 6. Mariko san bermain nendo sama Riku sampai jam 7 malam. Capek tapi mungkin karena kecapekan jadi anak-anak malah tidak bisa tidur sampai jam 9:30. Aku baru bisa lega jam 10… buka komputer lalu balas email dll.

Berlalu deh satu hari lagi… (Oh ya Kai hari ini persis 11 bulan) *** 16 Juni 2008

4 gagasan untuk “Paspor

  1. Hery Azwan

    Kalau di Jakarta kayaknya Krispy Krim nggak laku. Kalah saingan sama JCo yang lebih dulu ada. Memang menurut saya JCo yang buatan lokal lebih lembut dari KK. Di Senayan City, gerai KK tidak pernah terlihat antrian yang panjang. Kalau di JCo, penuh perjuangan untuk antre….

    Oh gitu ya. Kalau JCo saya sudah pernah coba…biasa aja. Nanti deh coba KK nya di senayan city aja, ….mungkin sesudah makan di Otoya ya Bang hihihihi….

    Balas
  2. Tri

    Kayaknya repot ya hidup di negeri orang?

    Repot karena saya urus sendiri. Kan mustinya suami bantu, tapi dia sibuk, Tapi kalau di sini ngga makan hati karena semua urusan pasti selesai pada waktunya dan tidak ada biaya extra-extraan, ngga kayak di negara kita hihihi.

    Balas
  3. Ty

    Salam,
    Mbak Imelda, bolehkah saya bertanya sesuatu berkaitan dengan tulisan saya mengenai pernikahan di Jepang. Yang ingin saya tanyakan berkaitan dengan koseki tohon (kartu keluarga). Bagaimana cara mendapatkan koseki tohon bagi pasangan yang baru menikah? Apakah mereka langsung secara otomatis mendapatkan koseki tohon saat pernikahan bersamaan dengan sertifikat pernikahan, ataukah koseki tohon baru didapatkan saat mempelai/pihak mempelai mengajukan permohonan untuk memperoleh koseki tohon yang baru? Dan berapa lama waktu sampai koseki tohon ini diperoleh? Adakah perbedaan dalam hal mendapatkan koseki tohon ini bagi mempelai Jepang atau yang campuran?

    Atas perhatiannya, saya ucapkan terima kasih.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *