Perawat

Dalam perjanjian kerjasama ekonomi (EPA) Jepang Indonesia yang ditandatangani beberapa waktu yang lalu, terdapat kesepakatan untuk mendatangkan tenaga perawat media dan perawat lansia dari Indonesia ke Jepang. Dan untuk tahun pertama direncanakan untuk mendatangkan 300 orang perawat lansia , tetapi ternyata dari pendaftaran yang dibuka, hanya 115 orang saja yang mendaftar. Masalahnya memang disebabkan perawat lansia/panti jompo di Indonesia tidak memiliki sertifikat, padahal pengirimannya memakai standar perawat sehingga sulit untuk mengumpulkan calon yang memenuhi standar.

Pengiriman tenaga perawat medis dan perawat lansia ini memang diharapkan membawa angin segar dalam hal ketenagakerjaan, tetapi saya sendiri melihat banyak sekali kendalanya. Pertama standar pengetahuan perawat di Jepang apakah bisa dipenuhi oleh perawat Indonesia. Kedua, faktor bahasa yang amat sangat menentukan. Memang mereka akan mendapatkan pelajaran baahsa jepang 6 bulan sebelum mulai bekerja, akan tetapi menurut saya 6 bulan tidaklah cukup. Karena banyak sekali istilah kedokteran/medis yang harus dihafalkan, belum lagi jika merawat orang tua, bahasa mereka tentunya lain dengan yang dipakai oleh anak muda/pelajaran yang diberikan. Ada banyak ekspresi pengungkapan misalnya letih saja, berbeda menurut asal pasien. Bahasa Jepang memang tidak mudah, jika tidak mau dikatakan sulit.

Tapi mengapa banyak pegawai toko/penghibur dari negara tetangga kita Filipina atau Thailand? Tentu dalam faktor bahasa orang Indonesia dan orang Filipina/Thailand sama saja kendalanya. Satu kendala lain yang memang amat sulit juga untuk saya kemukakan sebetulnya masalah agama. Agama Islam. Amat sangat delicate, tapi merupakan kenyataan. Pengertian orang Jepang pada khususnya dan orang asing negara lainnya pada umumnya tentang agama islam amat minim. Jika pengetahuan tentang agama islam dikuasai, saya rasa tidaklah sulit untuk mencapai kesepakatan. Misalnya waktu untuk sholat, atau dalam menjalani puasa. Belum lagi kecanggungan orang asing /Jepang menghadapi perawat yang berjilbab. Sulit. Apalagi yang dihadapi adalah orang sakit atau orang tua yang notabene sedikit sekali pengalaman dan pengetahuan akan negara asing (baca islam). Orang sakit/orang lansia lebih ganko (keras kepala) daripada masyarakat umum.

Selain masalah bahasa dan agama, ada lagi masalah iklim 4 musim. saya sempat membaca bahwa Hokkaido tidak bisa mendatangkan perawat dari Indonesia, karena tidak ada yang mau mendaftar untuk bekerja ke sana. Calon perawat Indonesia takut untuk menghadapi suhu dingin. Ini wajar sekali. Saya pun belum tentu mau untuk tinggal di Hokkaido. Salju bermeter-meter bisa menutupi rumah di musim dingin. Belum lagi setiap hari kita harus mencangkul salju, membuka jalan, membuang salju yang ada di atap supaya atap tidak roboh menahan beban salju, dll. Bagaimana bisa kita mengharapkan seseorang yang terbiasa hidup di negara yang suhu udaranya stabil kira-kira 28 derajat, akan betah dan mau tinggal di tempat yang bisa bersuhu minus 20 pada musim dingin?

Selain faktor-faktor external perawat itu sendiri, saya memang tidak mengetahui jumlah perawat di Indonesia ada berapa banyak. Apakah memang negara kita surplus perawat? Bagaimana jika kelak Indonesia malah akan kekurangan perawat? Semakin makmur suatu negara, semakin tinggi usia harapan hidup dan sebagai akibatnya masalah kesehatan dan penanganan lansia akan menjadi masalah yang serius. Apalagi jika tidak ditunjang dengan pertumbuhan tenaga kerja yang memadai. Anda belum mempunyai pekerjaan? Anda mau mencari jenis pekerjaan untuk bisnis yang akan laku terus sampai 20-50 tahun ke depan? Pilihlah profesi perawat, atau bisnis penanganan lansia (panti jompo). Tapi syaratnya, Anda harus sehat, dan kuat!!! Karena tenaga Anda akan diperas untuk merawat orang tua yang berat badannya minimal 40 kg. Karena itu pula panti jompo akan senang sekali mempekerjakan perawat pria. Daikangei (very welcome!!)

Perawat oh perawat… Anda tahu hari peringatan perawat kapan? Saya hafal yaitu tanggal 12 Mei, karena itu bertepatan dengan ulang tahun ibu saya. Dan kok kebetulan ibu saya juga mantan perawat. Tapi perawat yang terpaksa (menurut beliau sendiri). Karena dulu sekolah perawat itu gratis, malah mendapat gaji. Padahal ibu saya tidak tahan melihat darah. Bahkan sempat pingsan waktu melihat orang disuntik. Untung saja dia tidak lama menjadi perawat. Tapi dia sempat bercerita kepada saya, tentang seorang nenek yang sakit parah. Si nenek hanya mau dilayani oleh ibu saya. “Suster Maria…..” teriaknya setiap kali suster lain yang datang….
Si Nenek sudah pikun. Tidak ingat lagi bahwa dia sudah makan, tapi dia bilang belum dapat makanan. Sampai dia juga tidak bisa kontrol lagi tindakannya. Dia ambil kotoran bab (maaf…) nya, dan dia leper ke tembok. Suster Maria harus membersihkan tembok itu. Dan Suster Maria harus menghadapi kasur kosong keesokan hari tugasnya, sebagai tanda si nenek telah berpulang.

Perawat…. betapa mulia pekerjaan itu.
dan betapa perawat dituntut untuk bersabar….dan bersabar….

(Sumber berdasarkan berbagai media dan pendapat pribadi ** Imelda lagi serius nih hihihi)

2008/06/10-23:47 応募わずか115人=EPAの介護福祉士派遣-インドネシア   【ジャカルタ10日時事】日本とインドネシアとの経済連携協定(EPA)に基づく看護師・介護福祉士候補者派遣事業で、インドネシア保健省は10日、介護 福祉士の応募が115人にとどまったことを明らかにした。EPAでは初年度300人の受け入れを予定していたが、これを大幅に下回る結果となった。
保健省関係者によれば、応募が少なかった理由としては、インドネシアには介護福祉士の資格がなく、派遣対象は看護師とされたため、看護師協会が派遣に慎重な姿勢を示したことや、日本側の批准の遅れで十分な準備期間が取れなかったことが挙げられている。

13 thoughts on “Perawat

  1. ai

    hmmm….tapi klo dilihat dari pekerjaanya, perawat merupakan pekerjaan yang sangat mulia, tapi klo untuk ditempatkan dinegara asing mustinya ada perlindungan dari kedutaan Indonesia yang bekerjasama dengan negara tersebut, sehingga orang yg mempekerjakan perawat – perawat itu akan merasa aman dan nyaman untuk melakukan tugasnya

    Kalau berdasarkan perjanjian biasanya sarananya lengkap kok. Masalahnya merasa aman dan nyaman itu kan tidak ada standarnya. Setiap orang lain-lain. Biasanya yang bermasalah kan yang ilegal.

    Reply
  2. Hery Azwan

    Sayang sebenarnya, kalau memang banyak lowongan tetapi masih sedikit yang mengisi. Sebenarnya orang Indonesia tahan banting. Lihat saja TKW yang diperlakukan tidak layak oleh majikannya. Tapi mereka tetap bertahan. Masalahnya barangkali di faktor bahasa. Banyak perawat handal yang malas belajar bahasa Jepang. Mereka udah hitung2an. “Ah daripada belajar bahasa Jepang yang sulit (aksaranya saja berbeda), mending belajar bahasa Inggris”. Toh honor di negara2 yang berbahasa Inggris relatif sama dengan di Jepang. Begitu kira2 analisis asbun dari saya. Hi hi hi…

    Memang bahasa jadi penghalang utama menurut saya. Saya saja sebelum datang ke Jepang udah belajar bahasa 5 tahun masih terbata-bata pertamanya. Gimana yang cuman 6 bulan? Plus permasalahan yang saya bilang di atas tadi.

    Reply
  3. dewisang

    y memang mulia mbk, dan sbg syarat mutlak memang hrs sabar krn profesi ini bener2 menservis orang (sakit) pula. Klo sabar akan bikin pasien senang dan bisa mempercepat penyembuhan. Tpi, di Indo byk bgt perawat2 yg rese’(pengalama pribadi dan beberapa teman), judes dan sok penting. Yg muda2 terutama, klo yg senior biasanya baik….

    mungkin rese’nya karena gaji kurang ya hehehe. Iya kadang memang ada yang begitu. Tapi selama aku dirawat di RS di sini belum pernah ketemu perawat yang rese.

    Reply
  4. Lala

    Nihongo tuh SUSAAAAHHHH…..!!! :(
    Enam bulan belajar mah ga cukup… *pengalaman pribadi*
    Apalagi ngapalin kata-kata istilah kedokteran… UUuhhhhh… Mana tahan weiceh *contek gayanya Om NH sambil clingukan.. kok tumben ga ada… * hehe

    Dan benar, perawat itu mulia sekali… Saya terharu pas baca tentang ranjang yang kosong itu Emi-Chan…..

    muzukashiideshou…. tapi ya semoga tekad dan semangat belajarnya besar. Biasanya masalahnya orang Indonesia kurang semangat/tekad nya itu tuh.

    Reply
  5. fai

    Sbelum nya Thanks bgt..

    Oh ya bisa tahu dimana tempat pendaptaran calon perawat diJepang ini gak Non…>?
    thanks bgt ya

    Reply
    1. dewi

      kalau tinggal sekitar tokyo tel aja t c a tokyo caregiver academy 03-5643-5381 dgn bhs inggris or japanese ,,dikelas ku cuma gue sendiri org ri samishii ni

      Reply
  6. albertus

    Asal ada kemauan di situ pasti ada jalan.Demikian bunyi pepatah.

    Program pelatihan selama 6 bulan kali ini sangat intensif. Bahkan melebihi dari program bahasa Jepang bagi mahasiswa dengan beasiswa Monbusho. Selama 6 bulan, mereka akan belajar di AOTS, sebuah institusi pendidikan bahasa Jepang ternama di bawah naungan METI(Dept. Ekonomi Perdagangan dan Industri Jepang).

    Selain itu banyak sekali masyarakat Jepang, terutama di sekeliling saya yang ingin sekali membantu para calon perawat ini.

    Dalam segala hal, pasti ada sisi baik dan sekaligus sisi buruknya. Marilah kita kaji dengan saksama sisi buruknya dan memetik pelajaran darinya. Serta mengembangkan kemungkinan2 yg positif sehingga hubungan kedua negara bisa adem ayem dan saling membangun hingga pada taraf penduduk.

    Wah artikel ini sangat membantu,Mbak.

    terima kasih Arbee…gimana sibuk banget ya urus ini itu.. BTW KOI udah selesai kan? Gambatte for the next term. Aku masih belum bisa ke sana sih… For the time being, onegaishimasu ya…. Nanti kalau Kai sudah masuk SD kali heheheh (5 th lagi) Yang pasti 5 tahun lagi, aku mau ngelayap terus keluar rumah dan ngajar terus (tapi masih ada yang mau mempekerjakan aku ngga ya arbee? Nnati kalau kamu punya sekolah sendiri, employ me ya hihihi. pake korting deh tapi jangan 50rb yen sebulan …berat di ongkos hehehe)

    Reply
  7. Hery Azwan

    La, jadi kepikiran nih.
    Gimana kalau Lala mencoba ide gila menjadi perawat di Jepang selama setahun. Pasti di sana banyak pengalaman unik. Dari pengalaman tadi, pasti bisa jadi buku yang luar biasa…
    Hi hi…Enak aja, kata Lala….Elu yang enak, gue yang gempor…

    Reply
  8. Pingback: Hubungan Indonesia Jepang | Twilight Express

  9. eka

    saya salah satu yang ikut program ini mba..saya belajar di AOTS KKC di Osaka..waktu diIndonesia saya sama sekali ga nyentuh bhs jepang..tapi sekarang saya n temen2 br saja menyelesaikan ujian kanji 700(ttg kesehatan) n kanggo senmon.
    saya acungkan 2 jempol buat cara AOTS ngajar.. yang saya rasakan sie yah..buat ngomong ma orang jepang ato sekedar nntn bangumi sie msh ngerti..hehhe..trus tgl 12 bulan nie qt dah mulai ke RS masing2..sejauh nie sie sambutan mereka msh anget2 aj mbak..n menurut saya sie..memang setaon pertama qt akan mengalami kesulitan dlm komunikasi itu..tp rata2 setelah bekerjapun qt tetep belajar lagi ttg nihongo ma senmon kanggonya di RS..qt disediakan sensei juga…
    yah,,doakan aj mba semoga semuanya lancar,,n qt bisa survive..n mudah2an diantara kami ada yang lolos kokka shiken februari ini..amin..
    ganbarimasu…!!!!!

    Reply
  10. Pingback: Menjadi Seorang Ibu | Twilight Express

  11. arie

    hai mbak…
    baca2 komen di atas, siapa tau ada perawat/c.giver yang kenal atau bahkan sudah di jepang di batch pertama..

    pengen tau pengalaman gimana?

    dan denger2 udah ada yg pulang ya karena gag betah?

    Reply
  12. dewi

    saya lagi belajar c giver di tokyo baru dua mgg ini dgn biaya 90.000 yen /12 kali pertemuan dari pagi sampai sore ,pengen punya teman yang dikirim dari indo kejepang ..saya sudah hampir 7 tahun tgl dijepang tapi kanji gak pede ni kalau gomong sih ok ada yang mau berteman…
    u mbak yang bikin blok ini masih ada di jepang or indo?
    menurut saya program ini baik walau sulit dlm bahasa budaya tenaga coba dulu jangan kalah sebelum berjuang ,,,,

    Reply

Tinggalkan Balasan