Berat sebelah = かたよる

Berat sebelah = かたよる

Tidak seimbang, berat sebelah, terbias, condong pada satu sisi. Itu saya lihat dalam kehidupan mahasiswa Jepang sekarang. Terutama dalam kebiasaan makan. Dan tentunya itu merupakan cerminan dari orang tuanya yang notabene seumuran dengan saya. Yah, mau tidak mau saya harus menerima bahwa ada beberapa mahasiswa saya yang mungkin orang tuanya seumuran dengan saya.

Dalam pelajaran bahasa Indonesia intermediate hari Jumat lalu, kita membaca tentang Pelabuhan Sunda Kelapa. Waktu membicarakan hasil laut, misalnya kerang, ikan, penyu, kepiting, udang, lobster dll. Seperti biasa, saya sering menanyakan kepada murid, “Kamu suka makan apa? suka kerang?” Kebanyakan dari mereka juga tidak begitu suka kerang seperti saya. Memang kerang bukan makanan umum. OK. Tidak apa-apa. Bagaimana dengan udang? Kalau udang, memang ada yang alergi, sehingga tidak bisa makan udang atau Lobster. Hal ini bisa dimengerti. Tapi ada beberapa anak yang mengatakan “tidak suka”. Tentu saja setiap orang punya kesukaan terhadap makanan yang berbeda. Lagipula Udang kolesterol tinggi, dan mahal…jadi kalau tidak suka ya apa boleh buat. Tapi yang membuat saya heran adalah jawaban “tidak suka ikan baik mentah maupun ikan bakar”. Nah loh.

Sebagai negara lautan tentu Ikan merupakan makanan umum di Jepang. Daging merupakan makanan yang baru masuk ke Jepang karena ada pengaruh dari luar negeri. Biasanya Ikan-ikanan dimakan sebagai sushi atau sashimi, atau dibakar biasa saja dengan garam, lalu dimakan dengan parutan daikon dan shoyu. Ikan bakar demikian sering kita jumpai sebagai makan pagi di penginapan/hotel-hotel. Atau ikan mentah ditaburi miso dulu dan dibiarkan beberapa hari baru dibakar, sehingga ikan berbaur dnegan rasa miso yang khas membuat daging ikan itu gurih. Selain ikan segar, untuk makan pagi juga sering dibakar ikan yang sudah dikeringkan dulu sebelumnya. Sedikit lain dengan ikan asin di Indonesia yang dikeringkan dengan memakai banyak garam, di Jepang ikan keringnya tidak asin. Satu lagi jenis masakan ikan yang sering dikonsumsi adalah ikan rebus. Ikan direbus dengan sedikit air, shoyu dan gula. Sehingga rasanya sedikit manis. Mungkin bisa dibayangkan ikan tim diberi kecap manis.

(karei rebus shoyu) (aji no hiraki – ikan kering)

Begitu banyak jenis ikan yang ada di Jepang, begitu beragam cara mengolahnya, sehingga kita mempunyai persepsi bahwa orang Jepang pasti suka makan ikan. Tapi ya itu tadi, seperti yang saya tulis sebagai judul, berat sebelah, yaitu semakin banyak anak-anak dan remaja yang tidak makan ikan. Apa yang mereka konsumsi di rumah sangat berat sebelah. Daging, daging dan daging. Padahal Masakan Jepang dulunya jarang memakai daging. Sayur, kacang-kacangan, tahu, telur, ikan. Namun orang tua yang seumuran dengan saya itu, merasa malas untuk mempersiapkan makanan Jepang yang sebenarnya healthy itu. Memang lebih mudah untuk masak Nasi kare, beefstew, spaghetti, hamburger, beef steak dll. Karena malas untuk menyiapkan masakan itu juga, banyak ibu yang memakai makanan beku misalnya nasi pilaf beku, hamburger beku, sayuran beku, bahkan ayam goreng pun beku. Pertama saya heran melihat iklan lemari es di sini. Isi dari kotak freezer itu semuanya adalah makanan beku. Rupanya itu merupakan kenyataan juga dari isi lemari es keluarga Jepang sekarang. Sebelum Riku masuk TK, lemari freezer saya tidak pernah ada isi makanan jadi yang beku, tapi sekarang pasti ada 1-2 jenis. Karena saya harus menyiapkan bento setiap hari, memang kalau ada makanan beku akan praktis sekali.

Saya suka makan ikan. Lebih suka daripada daging-dagingan. Dan saya juga bisa menyisik ikan atau memotong ikan utuh. Ternyata ketrampilan menyisik ikan atau memotong ikan utuh itu merupakan ketrampilan langka sekarang. Semua ikan yang dijual memang sudah bersih. Dan kalau membeli ikan utuh, bisa minta tolong petugas supermarket untuk membersihkannya. Tapi sedangkan untuk membeli ikan yang sudah bersih itu pun masih sulit untuk sebagian orang Jepang. Karena untuk membakarnya masih perlu waktu, perlu kesabaran juga. Saya semakin prihatin dengan isi meja orang Jepang…. dan tentu saja saya juga prihatin dengan isi meja makan rumah saya dengan kenaikan harga-harga. Tapi keprihatinan saya terhadap kaum remaja Jepang adalah mereka tidak tahu keanekaragaman masakan, dan bahan makanan yang ada. Tidak perlu mahal, karena dengan harga murahpun kita bisa menyajikan bermacam jenis masakan untuk keluarga kita.

Saya berharap semoga kecenderungan jenis masakan yang dikonsumsi tidak menyebabkan kekurangan vitamin atau mineral yang penting dalam pertumbuhan. Dan tentu saja saya juga terus berusaha membuat masakan yang sehat dan beragam untuk keluarga saya. Saya tidak bisa membayangkan misalnya kelak ada remaja yang terbelalak melihat kepiting dan bertanya makhluk apa ini? (Saya pernah punya murid seperti ini, yang tidak pernah makan udang rebus dan kepiting kemudian bertanya bagaimana cara makannya????)

2 Comments

Makanan beku itu apa ?
Makanan yang sudah jadi ? Atau REITOU SHOKUHIN ?

Memang masalah makanan di Jepang sekarang serius ya…
Makanya sekarang ada yang berusaha SHOKUIKU (pendidikan makanan) ya ?
Kalau di Indonesia gimana ? Dulu saya ada image kalau pemuda Indonesia banyak yang tidak begitu pikirkan giji atau makanan, tapi suka makan indomie terus ^^. Tapi juga masih bisa dapat berbagai sayuran dan buah-buahan yang bersih dan bagus, jadi tidak usah terlalu repot juga sudah bisa sehat.
Saya pernah pikir di masa depan saya mau buka sekolah giji atau makanan di Indonesia.^^

makanan beku = reitou shokuhin. Ada shokukyouiku juga, tapi di Indonesia mungkin belum bisa memikirkan sampai ke makanan bergizi seperti apa. Untuk bisa makan aja susah, apa lagi cari yang bergizi.

Di Indonesia juga kayaknya mulai seperti itu. Anak2 hobi banget makan fast food seperti ayam goren tepung sih kolonel itu.
Di keluarga istriku, aku senang memperkenalkan mereka dengan masakan laut seperti udang dan ikan.
Kalau ada acara keluarga saat liburan dan semua ngumpul, aku memasak udang dan ikan. Kalau udang ditumis dengan saus tiram. Adapun ikan digoreng kemudian disiram saus tertentu.
Terkadang, kepiting juga ada.
Keponakanku suka nagih kepiting kalau lagi liburan di Bandung.

Hery Azwan´s last blog post..Setahun Ngeblog

waaah kelihatannya abang pinter masak nih, perlu tuh sekali-sekali memamerkan keahliannya.
Semua bahan aku sediakan, abang yang masak ya….di jakarta tentu bukan di Tokyo (berat di ongkos hihihihi)
EM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Post navigation

  Next Post :