Arsip Bulanan: Juni 2008

Story of Black Crayon

Tulisan ini sudah pernah saya post di Multiply 28 Januari 2008.

Saya jarang sekali nge-fans sama orang…apalagi celebritis. Tapi untuk kali ini saya merasa saya akan menjadi fansnya Nakaya Miwa yang  adalah seorang illustrator. Dia menulis buku bergambar untuk anak-anak, atau tepatnya menciptakan karakter yang dibukukan. Ada dua karakter yang sudah kami kenal dengan baik, karena kami mempunyai kebiasaan membacakan buku untuk Riku, anak kami. Yaitu Soramame kun dan Kureyon no Kuro kun.

Cerita “Kureyon no Kuro kun” (Story about Black Crayon) diawali dengan sebuah kotak crayon yang masih baru. Karena bosan tidak pernah dipakai, Crayon berwarna kuning keluar dari kotaknya dan berjalan-jalan, dan menemukan selembar kertas gambar putih. Kegirangan, ia meluncurkan badannya dan menggambar di atas kertas tersebut. Kemudian dia memanggil crayon berwarna Merah dan Pink, kemudian mereka menggambar bunga. Lalu crayon Merah memanggil si Hijau Muda dan Hijau Tua, yang kemudian menggambar daun untuk bunga-bunga itu. dst…dst… sehingga lengkaplah sebuah pemandangan yang indah.

Namun datanglah si Hitam. “Aku menggambar apa?? ”
Yang lain berkata…”kami tidak perlu kamu…. ”
Hitam menjadi sedih. Untung ada Sharp-pen (Pensil mekanik) yang menghibur dia. Sementara itu si Crayon-crayon lainnya, keasyikan menggambar sehingga saling tindih dan akhirnya berkelahi. Gambar yang semula bagus menjadi berantakan. Di sini Sharp-pen berkata kepada si Hitam untuk meng-hitam-kan semua warna. Tentu saja crayon lainnya marah….

Setelah semua menjadi hitam….tiba giliran Sharp-pen untuk menggambar. Dan terciptalah sebuah gambar kembang api yang berwarna-warni dengan bentuk bermacam-macam. Karena ada si Hitam ini terciptalah sebuah gambar yang indah…. Crayon lainnya meminta maaf pada si Hitam karena sudah mengasingkan dia…

Makna cerita ini? Tentu saja menekankan pentingnya persaudaraan, dan menunjukkan bahwa tidak ada “orang” atau “sesuatu” yang tidak berguna. Dalam sekali maknanya, tapi diceritakan dengan menarik dengan tokoh karakter yang sebetulnya sudah lama ada dalam kehidupan kita.

Itu membuat saya menjadi suka dengan Nakaya Miwa ini. Kemampuannya untuk menciptakan karakter dari kehidupan sehari-hari yang diceritakan dengan gamblang dengan menyusupi “ajaran kehidupan”. Cocok untuk anak-anak balita. Andaikan saja ada seorang Nakaya Miwa di bumi Indonesia….

Naruto… Masked Rider…Ultraman…. tokoh-tokoh karakter dengan kehebatan masing-masing memang lebih terkenal di bumi Indonesia. Mereka lebih maskulin dan melambangkan “Jepang”…. tapi saya akan lebih suka memperkenalkan karakter-karakter lain yang lebih lembut, lebih kreatif, dan lebih mengajarkan kedamaian kepada teman-teman di Indonesia sebagai penyeimbang akan apa yang dikenal sebagai kebudayaan.

Satu lagi pesan saya…. usahakan untuk membacakan buku untuk anak Anda… meskipun mereka sudah bisa membaca. Dengan membaca buku bersama, mereka akan merasakan kehangatan keluarga, dan waktu seperti itu juga bisa dipakai untuk mengemukakan pikiran masing-masing. Kebiasaan yang saya terapkan pada anak saya sejak dia berusia 6 bulan, sampai sekarang hampir berusia 5 tahun…. memberikan waktu pada kami orang tua yang begitu sibuk dalam kegiatan sehari-hari untuk merasakan kedekatan dengan anak kami. Semoga kebiasaan ini bisa berlanjut terus…. ….

NB 1: Saya cukup sedih karena Riku sekarang lebih suka membaca buku Pooh daripada cerita Jepang yang lain. Tapi yah, yang penting ada maknanya deh. Saya paling benci kalau dia minta dibacakan majalah … apalagi yang tokusatsu seperti Ultraman. Selalu saya tolak dengan alasan “Mama ngga suka baca katakana”. Njelimet, abis bahasa Inggrisnya semua dikatakana-kan sih. 🙂

NB 2: Tunggu cerita saya mengenai buku Miwa yang lain!!

Mari Masak Bersama Riku

Kemarin hari Minggu, Riku bangun jam 6:00 … “Mama kemarin janji mau buat kue kan?”

“OK!!”

So, kali ini Riku akan mengajarkan para pembaca blog ini untuk membuat kue. Namanya Ontbijtkoek. Bahasa Belanda yang artinya Kue untuk ontbijt =sarapan. Dan harus pakai bumbu spekoek supaya afdol. Juga PALMSUIKER, gula palem. Saya waza-waza bawa dari Jakarta.

Bahan:

4 butir telur (masukkan dalam cangkir/mangkok yang pas, ini akan menjadi ukuran)
1 mangkok palmsuiker (karena saya tidak suka manis biasanya hanya 3/4 nya)
1 mangkok terigu
baking powder 1 sdt
bumbu spekoek 1 sdt
dry fruits/kismis dan/atau almond slices

telur +palm suiker +baking powder + spekoek dikocok sampai mengembang

masukkan terigu sedikit demi sedikit pada adonan yang sudah mengembang, sambil diaduk satu arah perlahan. Masukkan dry fruits, masukkan loyang , dan taburi almond slices. Bakar dalam oven dengan panas 200 derajat kira-kira 20 menit. Ada yang suka masukkan mentega cair dalam adonan, tapi saya lebih suka oleskan mentega pada kue yang panas. Silakan santap panas-panas. Orang Belanda katanya sering makan kue ini dimasukkan dalam roti …aneh ya. hihihi

Karya Kai yang pertama

Sebagai mantan DJ Radio, saya punya banyak CD dan kaset. Kebanyakan kaset-kaset itu sudah saya pindahkan ke dalam Mini Discs, tapi karena kaset Indonesia amat sangat langka, saya tetap menyimpannya.

Waktu Riku kecil, sampai sekarang mungkin hanya sekitar 2-3 kaset yang menjadi korban ketrampilan tangannya. Tapi Kai yang belum berumur 1 tahun, sudah menunjukkan bakat terpendamnya yang mungkin bisa melebihi kakaknya.

Terus terang saya tidak tahu kaset ini isinya apa…moga-moga bukan yang saya suka… Mungkin Nike Ardilla… tapi kalau liat body nya kayaknya sih lagu baru. Sepertinya saya harus bereskan lagi kaset-kaset ini dan disimpan di tempat yang tak terjangkau… tapi di mana dong? Kolong tempat tidur sudah penuh tuh…

Masih tentang 18

Delapan belas atau Juhachiban.

十八番

Aku baru teringat suatu episode di karaoke:

“Imelda, lagu If hold on together itu juhachibannya kamu ya. ”

“Kok juhachiban, bukan ichiban?”

“Iya juhachiban disebut juga ohako, itu artinya sesuatu keahlian yang kamu kuasai”.

Lalu kenapa justru angka 18 yang dipilih bukannya angka 1 atau yang lain. Ada beberapa keterangan yang bisa dipakai. Pertama seorang Artis Kabuki yang bisa mempertunjukkan 18 adegan kabuki yang dikuasai, disebut Kabukijutsu juhachiban. Kedua, Waktu Buddha menjalankan 48 janji dalam perjalanan rohaninya, pada nomor yang ke 18 adalah menyelamatkan semua makhluk hidup. Dan yang ketiga, Seorang Bushi (prajurit) harus menguasai seluruh senjata seperti panah, pedang dsb sejumlah 18 jenis. Jadi angka delapan belas berarti menguasai sesuatu keahlian tertentu atau bahkan keseluruhan. Bagus ya….

Saya baru ingat ini setelah menulis “Ada apa dengan 18

Bear Hunt

A father and his four children–a toddler, a preschool boy and two older girls–go on the traditional bear hunt based on the old camp chant: “We’re going to catch a big one. / What a beautiful day! / We’re not scared. / Oh-oh! Grass! / Long, wavy grass. / We can’t go over it. / We can’t go under it. / Oh, no! / We’ve got to go through it!” The family skids down a grassy slope, swishes across a river, sludges through mud and, of course, finally sees the bear, who chases them all back to their home. It’s a fantastic journey–was it real or imagined?–with the family’s actions (and interaction) adding to the trip a goodnatured, jolly mood. The design of the oversized volume alternates black-and-white drawings with gorgeous full-color watercolor paintings, which Oxenbury uses to wonderful effect. Readers accustomed to her board books will find a different style here, of puddled colors and sweeps of light and shadow. The scale of the pictures and the ease with which the text can be shouted aloud make this ideal for families or groups to share. Ages 4-9.
Copyright 1989 Reed Business Information, Inc.

Ini adalah preview dari sebuah Picture Book terkenal dari Michael Rosen dan Helen Oxenbury (illustrator) yang berjudul “We’re going on a Bear Hunt”. Bahasa Jepangnya “きょうはみんなでクマがりだ”.

Ini adalah PB yang disarankan oleh pembaca cerita di TV bersamaan dengan “Gajah yang Malang”. Tadi malam buku ini terpilih kembali untuk dibacakan sebelum Riku bobo. Bed time stories. Riku bilang bahwa buku ini dipakai dalam pelajaran bahasa Inggrisnya, karena itu saya browsing dan ternyata buku ini cukup terkenal sampai terpilih menjadi “7 cerita terbaik”. Lucu juga ngebayangin anakku ini belajar bahasa Inggris dengan buku ini.

Hari ini kita akan menangkap beruang.

Beruang yang besar!!
Hari yang cerah. Kami tidak takut…
Wah rerumputan. Tinggi-tinggi.
Kita tidak bisa lewat di atasnya
Apalagi lewat di bawahnya.
Kita harus melewatinya.

Karena bukunya besar, enjoy juga menikmati gambarnya, dan berimaginasi membayangkan suasana hari itu. Yang lucu kejadian pada akhir cerita. Karena berakhir di dalam selimut dalam tempat tidur.

Curhat

Mencurahkan isi hati disingkat curhat. Perasaan dulu semasa aku masih di jakarta ngga ada deh istilah ini. Dulu kita pakai istilah apa ya untuk menceritakan isi hati? sharing? diskusi? ahhh kok aku lupa.

Anyway, tadi waktu aku kasih tidur Riku, pertama kali dia “curhat” ke aku. Kira-kira begini isi percakapan kami:

“Mama, aku punya satu masalah…. Mau dengarkan?”

“Tentu saja… apa sih masalahnya Riku?

“Aku belum pernah cium orang, atau dicium orang. Selain mama ya.”

weleh weleh…apa lagi ini….

“Emangnya kenapa? Kamu kan masih anak-anak?”

“Tapi Jack dan Cody (FS Suite Life dr disney channel) itu udah pernah. Mereka kan anak-anak”

“Anak-anak tapi mereka bukan anak TK seperti kamu. Mereka kan sudah SMP. Lagipula Riku, film itu adalah film Amerika. Di Amerika boleh begitu, tapi di Jepang tidak bisa. Riku jangan tiba-tiba cium anak perempuan teman Riku ya. Nanti mama dimarahin ibunya mereka. Kamu tahu, di Jepang itu tidak ada kebiasaan cium-ciuman seperti di Amerika. Tidak boleh. Budayanya beda. Di Indonesia juga sama, tidak boleh loh. Yang boleh cium-cium hanya keluarga saja, misalnya kamu cium Sophie (sepupunya) boleh, tapi kalau cium sembarang anak perempuan ya pasti dimarahi”

“Ohhh gitu ya”

“Riku ngga boleh percaya begitu saja sama acara TV. Kadang ada bagusnya dan kadang ada jeleknya. Tapi kalau Riku ada pertanyaan , ya tanya saja sama mama. Udah deh tidur aja….”

“Tapi aku ngga bisa tidur…”

“Jelas tidak bisa tidur. Habis kita ngobrol begini terus. Kapan bisa tidurnya. Udah jangan bicara lagi deh”.

Akhirnya setelah aku bilang begitu, dia membetulkan posisi tidurnya, dan diam. Aku nyanyikan dia “Medaka no kyoudai”, lagu lullaby penghantar tidurnya.

めだかの兄妹が川の中。
大きくなったら何になる?
大きくなったらコイになる。
大きくなったらクジラに。
スイスイ・・・・
だけど大きくなってもメダカはメダカ。
スイスイ!

Ikan Medaka kakak beradik berenang dalam sungai.
Kalau besar jadi apa?
Kalau besar jadi Ikan Koi,
Kalau besar jadi Ikan Paus.
sui sui (suara berenang)
Tapi ..kalau besar… Kakak-beradik Medaka tetap saja Medaka.

Sweet Paradise

Hujan… padahal aku sudah berencana untuk pergi ke imigrasi ambil pasportnya Riku dan Kai. Mumpung Mariko san bisa temani aku. Dia akan datang jam 11, padahal kalau kita mau pergi harus di atas jam 2 jemput Riku dulu. Karena hujan dan dingin… brrr cuma 17 derajat max, aku bolosin Riku (payah nih ibu). Sambil beres-beres, trus masak Rawon dan balado kentang (si Mariko san suka banget pedes), begitu datang aku ajak makan siang dulu lalu sekitar jam 12 siang kita berangkat. Saat itu tidak hujan lagi.

Sesampai di Imigrasi, beli meterai untuk pembayaran pembuatan paspor sebesar 6000 yen /anak. Kemudian langsung ke counter pengambilan. Dicocokkan foto dan pemohon (juga data yang terdapat dalam IC) selesai sudah. Tidak sampai 5 menit untuk 2 anak. Keluar dari Imigrasi itu, Riku minta dibelikan craypas….dan kebetulan di toko itu sedang ada campaign potongan harga 20%. Jadi deh craypas 30 warna seharga 2000 yen (= harga 1 lembar foto dari Laquan tuh) berpindah ke tangan Riku.

Dari lantai 9 kita turun ke lantai 1 untuk beli Krispy kreme…soalnya penasaran banget. Antrinya katanya 25 menit. Begitu masuk antrian ternyata kita diberi semacam keterangan dan semua yang antri diberikan donut yang glaze gratis… wah…bagus juga tuh…. gimana kalau cukup satu donut itu lalu pulang atau beli kopi aja yah hihihi. Terus terang saja, bukan selera aku. terlalu manis. Harga satu donut 180 yen. Jadi aku berdua Mariko beli semua rasa untuk cobain.

Sesudah itu dari sta Tachikawa kita pulang menuju Kichijoji. Lalu tiba-tiba aku teringat ada restoran Cake -all you can eat di Kichijoji. Mumpung sama Mariko bisa ke situ, soalnya my hubby ngga suka manis-manis dan would never go there. Apalagi Riku jejingkrakan begitu denger mau makan cakes. So begitu kita sampai di sta Kichijoji, kita langsung cari toko itu. Namanya Sweet Paradise. Untuk Dewasa 1480 yen, anak-anak 840 yen. Terus terang aku tidak terlalu berharap, soalnya dulu aku pernah makan cakes all-you-can-eat di sebuah hotel di Shinjuku, dan NO WAY…manis banget. Manis dan mahal. Tapi di sini ternyata tidak manis at-all. Selain kue-kue ada ice cream, spaghetti, sandwich and coklat cair yang mengalir dari Fountain. Aku pikir pasti manis deh…eeee ternyata tidak loh. Enak malah. Si Kai juga kenyang makan sandwich satu lembar.

Waduh hari ini makan yang manis-manis, jadi begitu pulang rasanya eneg juga. Udah ngga selera untuk makan malam lagi. Tepat jam 8 malam aku temani Riku bobo, sedangkan Kai sudah pulas dari jam 7.

Oh ya melengkapi yang manis-manis hari ini, beli dagashi (snack jaman dulu) berupa botol dari wafers yang isinya bubuk ramune, dan lolipop untuk Riku. Dulu waktu kita pergi ke Taman Safari di Gunma, Riku lihat lolipop besar, dan dia ingin sekali, tapi aku lupa untuk beli padahal sudah janji. Jadi kemarin lihat lolipop itu (meskipun kecil) dia minta dibelikan.

Kolam Renang – プール

Kemarin pertama kali Riku berenang di musim panas tahun ini. Menurut prakiraan cuaca katanya akan hujan, tapi ternyata sekitar jam 9 pagi cerah sekali dan panas 🙁 Jadi aku siapkan tas dia berisi handuk, celana renang dan topi, serta kantong plastik untuk baju yang basah. Menurut kurikulum TKnya Riku, kelas atas (nencho) akan berenang setiap hari Selasa, dan sampai dengan summer holiday dia ada 7 kali kelas olahraga (renang). Kemarin adalah yang kedua, karena yang pertama hari mendung. Jadi kalau hujan sudah pasti tidak berenang. Standar mereka jika udara di luar + suhu air = 50 derajat lebih, maka acara renang akan diadakan. Tahun lalu dia bisa berenang paling hanya 3 kali, karena banyak hujan. Semoga tahun ini dia ada banyak kesempatan untuk berenang.

Mereka berenang di kolam renang yang ada di halaman sekolah. Sebelum menuju TK nya Riku, saya selalu harus melewati SLB. Di halaman sekolah mereka juga ada kolam renang. Lalu saya tanya pada Mariko san, Apakah semua TK ada kolam renangnya? Jawabnya Ada… Kebanyakan TK,SD pasti ada kolam renang. SMP sebagian ada, sedangkan SMA daerah biasanya ada karena tidak ada masalah dengan lahannya. Wahhhh, setahu saya tidak ada sekolah di Indonesia yang mempunyai kolam renang. Mungkin di sekolah swasta? Saya bersekolah swasta  terus sejak TK, tapi tidak ada kolam renang. Ada pelajaran renang, tapi pakai fasilitas umum terdekat (waktu itu di Bulungan tuh…waktu SMP, SD tidak ada berenang). Lalu saya ingat di Sekolah Jepang di Jakarta yang di daerah Pasar Minggu dulu, ada kolam renangnya. Mustinya di sekolah di lokasi baru juga ada. Negara Jepang dan Indonesia negara kepulauan. Tapi apakah anak-anak Indonesia semua bisa berenang? Saya rasa tidak semua.

Hanya saya merasa aneh waktu pergi ke kolam renang di sini, milik pemerintah daerah. Kebanyakan dalamnya hanya 120 cm saja. Waaah kalau begini sih, saya mau saja berenang tiap hari. Soalnya saya itu meskipun bisa berenang, selalu merasa panik kalau harus berenang di tempat yang dalam. Di kolam renang belakang rumah (bukan punya saya loh, dekat rumah) memang ada tempat yang rendah tapi sistemnya menurun. semakin ke utara semakin dalam.Dan anak-anak dan ibu-ibu memenuhi bagian dangkal sehingga biasanya anak-anak muda harus berada di kedalaman 2 meteran. Brrr. Yang paling dalam cuma 3 m sih… tapi saya selalu merasa waswas. Kolam itu dulu sering dipakai latihan oleh keluarga perenang Item. Sejak dibangun kolam baru di tempat lain tapi tidak begitu jauh dari situ, maka kolam lama itu selalu dipenuhi anak-anak. Kolam yang baru memang lebih bagus dipakai untuk latihan renang 25 m. Selain itu ada kolam dalam 5 meter untuk latihan loncat indah. So, karena saya penakut, tidak pernah mau coba untuk berenang di kolam baru itu. Tapi waktu saya ke jkarta 2 tahun yang lalu, adik saya sekeluarga mengajak saya dan riku untuk berenang di kolam baru itu (sudah jadi lama juga sih). Itu saja satu kelemahan saya, saya tidak bisa melindungi anakku jika berhubungan dengan air, kolam atau laut. Saya paling takut air. Untung ada opanya, sehingga riku bisa saya titipkan. Opanya Riku perenang, waktu masih muda pernah berenang dari Makassar sampai ke pulau terdekat pelabuhan pp. Dia juga dulu pemain sepak bola.

Ketakutan saya pada air bukan disebabkan misalnya saya pernah tenggelam atau apa. Tapi dulu waktu kecil saya sring bermimpi harus berenang di kolam yang dalamnya sedalam gedung skyscraper. lets say 40 m. Saya berenang terus sambil ketakutan …jangan berhenti..jangan berhenti…karena saya tidak bisa mengambang (berenang anjing). Mimpi itu sering datang. Dan dalam kenyataan saya semakin benci pada kolam renang.  Karena itu waktu memilih nama untuk anakpun, saya menghindari kanji yang mengandung unsur air. Riku 陸 berarti daratan/benua. Tapi Kai 櫂 berhubungan dengan air dengan arti dayung, dan dia lahir tepat di hari laut. Tapi dalam kanjinya tidak ada unsur airnya, adanya unsur kayu.

Yang pasti Riku dan Kai suka sekali air, suka mandi dan berendam. Sejak bayi, tidak pernah nangis kalau dimandikan. Saya, riku dan kai menikmati sekali berendam di air hangat. Yaaah mungkin emang saya “jodoh”nya hanya pada bath-tub bukan kolam renang 🙂

Riku bersama Darma dan Sophie

Ada apa dengan 18

Emang sih kena sama namanya NH18, tapi yang aku mau tulis di sini tentang Riku. Aku heraaaaaan banget deh, dia suka sekali dnegan angka 18.

“mama, si ryo punya lebah 18 ekor loh”

“mama, si hiro giginya ada 18 yang copot…”

“mama, besok beliin coklat ya…18 biji….” dst dst

heraaaaaaaaaan banget deh, lalu tadi aku tanya sama dia,

“Riku kenapa sih kamu suka banget sama juhachi (18)?”

“Hmmm kenapa ya…ngga tau kenapa tapi sepertinya angka itu menarik. ada dua angka kan ju (10) hachi (8). Kata papa itu angka beruntung.”

“Mama suka angka 8 dari dulu, tapi delapan bukan delapan belas…. Kalau orang Cina/Jepang suka angka 8 karena kanjinya bagus”

Jadi, sampai sekarang aku pun masih tidak mengerti kenapa Riku suka angka 18. Dia lahir tanggal 25 bukan tgl 18 spt si om kita itu. Yah…setiap orang punya angka keberuntungannya sendiri-sendiri.