globalization

globalization

Aku merasa dengan tinggal di Jepang, aku lebih banyak bisa berinteraksi dengan negara-negara di dunia, lebih daripada jika aku tinggal di negara Eropa atau Amerika. Biar bagaimanapun, Amerika atau Eropa kurang menghargai negara-negara kecil apalagi Asia. Tapi Jepang, sangat berkiblat pada Amerika memang …dan juga senang segala sesuatu yang unik. Jadi menurut saya kesempatan saya untuk misalnya makan masakan Turki atau Ghana lebih besar di Jepang daripada negara lain (kalau Indonesia jangan dibicarakan deh).

Saya pernah coba makan masakan Turki, rasanya? Hmmm kurang suka mungkin karena kurang rasa. Kebetulan masakan yang dipesan tidak begitu meninggalkan bekas. Tapi saya coba minuman alkohol dari Turki, yang awalnya transparan, tapi jika dicampur menjadi putih seperti air santan. Tapi waktu diminum rasanya mengingatkanku pada OBH (Obat Batuk Hitam).

Lalu pergi makanan Ghana, yang terkenal dengan coklatnya. Sekilas makanannya seperti Italia, yang banyak memakai Tomat, tapi kurang mak nyus istilah sekarangnya… Kalau makanan China, Korea, Thailand, Philipine, Kamboja, India, Vietnam, mungkin pernah tahu, dan pastilah masih cocok dengan lidah orang Indonesia. Makanan Italia, Meksiko, Spanyol…. hampir mirip. Makanan Roma, Jerman (susis melulu), Perancis (nah kalau ini maunya dibayarin). Saya masih ingin mencoba makan kangguru, makan buaya, kelinci dan lain-lain.

Tapi globalization atau mendunia itu bukan hanya dalam hal makanan saja. Seberapa jauh kita mengenal sebuah negara? Kebetulan dulu waktu SMA, saya tidak pernah dapat pelajaran sejarah dunia, jadi terus terang saya sebetulnya tidak bisa membedakan Amerika pantai barat dan pantai timur. Tapi saya terus berusaha di sini untuk lebih mengetahui dunia selain yang terkenal saja.

Satu usaha globalization terjadi tadi malam bersama Riku. Suami saya membeli buku baru terbitan Fukuinkan Shoten, penerbit terkenal khusus buku bergambar (picture book) Anak-anak. Judulnya Podda and Poddi. Karena akhir-akhir ini saya berusaha supaya Riku tidur cepat (jam 8-9, biasanya jam 10-11 tunggu babenya pulang), jadi jam 8 saya suruh matikan tv, dan menyuruh dia memilih buku yang dia ingin saya bacakan. Saya bilang, “pilih 4 buku”.
Riku, “5 ya ma?”
“Boleh 5…”
“10???”
“Boleeeeeh, udah cepat sikat gigi, dan bawa buku-buku itu ke kamar”
Jadi dia masuk kamar dengan 10 buku (tentu saja semua bahasa Jepang).

Tapi buku pertama yang dia pilih adalah Podda dan Poddi, yang sehari sebelumnya juga sudah dibacakan papanya. Saya bacakan …. agak cepat, karena saya ingat masih ada 9 buku lagi.
Saya baru pertama kali baca cerita itu, dan saya sendiri menikmatinya. Buku aslinya berbahasa Inggris yang dikarang oleh Sybil Wettasinghe, pengarang asal Srilanka. Menceritakan tentang sepasang suami-istri miskin. Si suami malas bekerja, dan waktu dia disuruh istrinya membeli makanan, dia larut berbicara dengan temannya sehingga hari sudah senja. Waktu tergesa-gesa ingin pergi ke kota, dia bertemu seorang nenek yang mukanya mirip dengan almarhum ibunya. Si Nenek menjual bibit bawang merah, tapi sampai senja begitu belum laku-laku. Karena kasihan, suami memberikan uang yang seharusnya untuk membeli makanan tadi kepada si Nenek dengan maksud membeli semua dagangan si nenek sehingga si nenek bisa pulang.

Pulang dengan hanya membawa bibit bawang, si Suami disambut dengan makian istri. Meskipun suami sudah menjelaskan perbuatan baiknya, Istri tetap marah dan membuan bibit bawang merah itu lewat jendela ke halaman belakang rumah mereka. Malam itu mereka tidur dengan perut lapar. Keesokan harinya istri pulang ke rumah ibunya (pulangkan aku pada ibuku…… haiyah…buyar konsentrasi…sorry).

Selang beberapa hari, si istri reda marahnya sehingga dia bermaksud pulang ke rumahnya. Di tengah perjalanan ia bertemu dengan suaminya yang berniat minta maaf dan menjemput (duhhh kayak film India). Mereka berdua pulang. Keesokan paginya hujan turun dengan derasnya. Sambil melihat keadaan hujan ke luar lewat jendela, si Istri berteriak….”suamiku ….lihat….!” Ternyata di halaman belakang penuh dengan tanaman bawang merah. Setelah hujan reda, si istri menuai panenan bawang, mengikatnya dan menyuruh suaminya pergi menjualnya ke pasar. Laku keras. Memegang hasil penjualan, si suami malahan menggunakan seluruh uangnya untuk membeli bibit bawang lagi. Kali ini si istri tidak marah, malah menyambut suaminya dan menyiangi halaman muka dan samping untuk ditanami. Bahkan si istri minta suami untuk mencarikan bibit tanaman lain. Tibalah waktu panen, semua sayur dan buah-buahan hasil ladangnya laku dan sejak itu mereka tidak pernah lagi tidur dengan perut kosong.

Bagus…. satu kata yang bisa saya katakan pada Riku. “Cerita yang bagus ya?”
“Mama, baca lagi” Aduh mak!!!
“OK!”… Saya mulai membaca, tapi dia sela.
“Ma, kenapa semua orang di gambar ini tidak pakai sepatu?”
walahhhh….memang benar semua tidak pakai sepatu/alas kaki. Lalu saya bilang,
“Riku, negara Srilangka, India itu negara miskin. Jadi penduduknya tidak punya uang untuk membeli sepatu atau sandal. Jadi mereka telanjang kaki pergi kemana-mana. Makanya mama kan tidak suka kalau Riku tidak menghargai barang, buang makanan. Riku sendiri saja punya berapa sepatu? Mereka sama sekali tidak punya…. Kalau Riku pulang ke jkarta nanti, di rumah opa semua pakai sepatu, tapi kalau riku pergi ke desa, banyak yang tidak pakai sepatu. Di Jepang semua pakai sepatu.. Orang Jepang semua punya sepatu, tapi tidak pernah bersyukur bahwa dia punya sepatu…..(dipotong sama dia…)
“Mama, akatamanegi (bawang merah) itu apa? ”
“Hmmm itu bentuknya kecil, mama suka masak kok. Kamu ingat tidak, si Darma di Jakarta suka makan nasi dengan bawang goreng saja…. (keponakanku yang satu itu emang susah makan)”
“Aku juga mau makan itu…”
“Duhhh riku kalau makan nasi dengan bawang goreng aja ya ngga enak. Tapi bisa kamu coba… ”
“Aku mau masak dengan bawang merah”
“Iya …besok….”
“Sekarang……”
“Nggak bisa… udah malam. Tapi Riku mau lihat bawang merah seperti apa?”
“Mauuuuu…” Lalu aku bawakan ke kamar tidur, dua buah bawang merah… Dia langsung pegang dan mau digigit… “Oiii jangan…pedas dan itu ada kulitnya. Udah bobo aja, besok kita masak pakai bawang merah sama-sama”.
“Baca lagi ma…..yang pelan…”
“OK….” Lalu aku lanjutkan baca, dan tidak berapa lama aku toleh, dia sudah terlelap….
Ohhh anakku..lucu dan pintar. Aku ingin dia tahu bahwa masih banyak negara/orang/budaya yang berbeda dengan yang dia miliki sekarang.

Photobucket
Malam kemarin menjadi pelajaran juga untukku. Sesudah anak-anak tidur aku cari nama Sybil Wettasinghe. Siapa sih dia? Apa cerita ini merupakan cerita rakyat Srilangka yang diterjemahkan? Atau Sybil ini pengarang jaman dulu? Oh Nooooo… tidak saudara-saudara… Dia masih hidup dan berusia sekitar 60/70 tahun dan sudah berkarya menciptakan lebih dari 200 cerita untuk anak-anak sejaktahun 1948. Bahwa karyanya juga sudah diterjemahkan ke beberapa bahasa…. Betapa kadang kita merendahkan suatu negara bahwa negara itu miskin, tapi? Mereka bangga punya seorang Sybil yang mengangkat nama bangsanya ke seluruh dunia.

Suamiku tanya apa tidak ada illustrator dan pengarang cerita anak-anak, picture book yang terkenal di Indonesia? Setahu saya tidak ada…. kapan Picture book asli Indonesia ada? siapa? Yang ada komik …. komik ….anime…. duh… Yang terkenal Om Pasikom, tapi bukan konsumsi anak-anak. Mungkin ada pengarang/ilustrator yang saya tidak ketahui, tapi di Indonesia pun tidak terkenal bagaimana bisa ke luar negeri? Yang terkenal? Tuh Andrea Hirata mungkin, atau Ayu Utami, atau Seno, atau Remy Sylado, atau…atau… tapi itu semua konsumsi dewasa. Bukan anak-anak.

“Ya kamu dong buat”
“Aduhhhh aku kan ngga bisa gambar…. aku ngga romantis (eh padahal cerita anak tidak perlu romantis ya?)…. emangnya gampang mengarang?” TIdak…tidak gampang mengarang. Menulis tidak susah, kata pak EWA. Membual juga tidak susah. Tapi untuk anak-anak perlu pemikiran lebih dalam lagi, dan ide yang lucu dan menarik. Negaraku ini luas, tapi kok ngga ada ide ya?
Anak seribu pulau? saya tidak bisa menilai….

Kapan ya? Kapan pendidikan anak-anak terutama pra-sekolah bisa diperkaya dengan kehadiran buku-buku bermutu? Yang sesuai dengan umurnya. Saya tetap berharap dan berharap, sambil memperluas wawasan saya di sini.

(mungkin ini culture shock saya bukan hanya terhadap jepang, tapi juga terhadap negara lain, meskipun kejadiannya di Jepang)

7 Comments

Yup.. sampean btul mbak.. Indonesia sangat membutuhkan orang2 yang peduli dengan pendidikan anak,terutama buku2 bermutu pra sekolah.. apalagi sekarang home schooling juga sudah mulai marak..
n sayangnya buku2 masih terkesan terlalu dewasa (walau juga banyak yang sesuai anak2) semoga bisa ditindaklanjuti

nanti kalau mudik mau cari ah buku-buku untuk pra sekolah sebagai contoh. kalau ada usul buku spt apa…..

Penerbit Indonesia harus lebih kreatif nih. Memang susah kali ye menjadi penulis buku anak, apalagi membuat picture book.

Ya, tapi penuh resiko juga. Semoga jika dicetak ada yang beli. Karena picture book memang pembuatannya lebih mahal. Jepang (perusahaan) mengalokasikan budget banyak untuk anak-anak.

HHmmm …
Salah satu Khas Imelda …
Judulnya rada beda dengan isinya …
Tapi entah mengapa saya selalu terpaku untuk membaca sampai habis.

Mulai dari wisata kuliner … ditutup dengan cerita Buku …

BTW … cerita buku ini menarik sekali … (but … saya lebih suka cerita buku tentang Gajah itu …)

Mengenai Ilustrasi … saya pikir ada beberapa anak muda yang bisa membuat ilustrasi … komik …
namun ini sifatnya masih “indie” alias masih lokal …
memang belum dikenal luas …
Aku pernah baca komunitas komikus ini ada … termasuk komikus cerita anak-anak …

Iya mas, komikus Indonesia memang banyak, karena yang trend adalah komik. Tapi Picture Book dan Komik itu amat sangat berbeda. Bahasa yang dipakai juga lain. Picture book lebih menekankan gambar dengan sedikit kata untuk mengembangkan daya imaginasi anak. Komik, gambar padat dengan banyak kata percakapan. Jarang dengan kalimat baku, Sehingga tidak tepat untuk konsumsi anak prasekolah. Yang getol mengembangkan Picture Book ini adalah DR. Murti Bunanta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Post navigation

  Next Post :