Gajah yang Malang

Hari ini tanggal 30 April merupakan hari peringatan perpustakaan. Karena pada tanggal 30 April tahun 1950 ditetapkan Hukum Perpustakaan.

Hari ini saya juga mau memperkenalkan sebuah buku bergambar (Picture Book) yang ditunjuk sebagai buku harus dibaca oleh Perserikatan Perpustakaan Sekolah Seluruh Jepang. Buku ini saya ketahui waktu sabtu 24 April lalu menonton televisi, dan dalam berita diperkenalkan seorang pemuda yang setiap waktu tertentu membacakan Picture Book di lapangan stasiun-stasiun. Dia ingin supaya semakin banyak orang dewasa yang mau menikmati membaca picture book, karena biasanya picture book itu identik dengan buku bacaan anak-anak. Dari hasil wawancara diketahui bahwa orang tua biasa memang membacakan untuk anak-anaknya tapi tidak pernah enjoy. Waktu dibacakan oleh pemuda itu, baru mereka merasakan kenikmatan mendengarkan pembacaan buku. Dan di salah satu kegiatannya pemuda itu membacakan sebuah buku yang berjudul “Kawaisouna Zo”(Gajah yang Malang) dan semua pendengar menangis sambil mendengarnya. Langsung saya dan Gen bilang, kita harus beli buku itu. Saya buka amazon, dan mereka hanya ada stok 3 buku saja. Langsung pesan dan buku itu sampai malam harinya.

Sudah lama saya tidak menangis waktu membaca buku…dan buku ini memang mengharuskan kita menangis. Buku ini menceritakan tentang tiga ekor gajah di kebun binatang Ueno, Tokyo pada waktu perang. Waktu itu Tokyo dibombardir Amerika…hampir setiap hari hujan bom jatuh di Tokyo. Dan jika bom itu jatuh di kebun binatang, berarti bisa membuat binatang-binatang itu berlarian ke dalam kota. Dan tentu saja hal ini membahayakan penduduk. Satu per satu binatang buas seperti singa, macan, beruang dibunuh. Binatang-binatang itu dibunuh dengan mencampurkan racun di makanannya. Tiba giliran gajah….

Gajah itu pintar dan mengetahui bahwa ada racun yang dicampur dalam kentang, sehingga yang dimakan hanya kentang yang tidak beracun. Petugas kebun binatang memikirkan jalan lain, yaitu dnegan menyuntikkan racun dengan jarum suntik… Tapi kulit gajah tebal sekali, sehingga semua jarum suntik yang terbesarpun patah. Akhirnya satu-satunya jalan dnegan membiarkan mereka mati kelaparan…. Sedikitnya perlu 13 hari sampai gajah itu mati…. dalam masa penderitaan seperti itu petugas yang merawat gajah tidak bisa menahan perasaannya. Tentu saja…bagaimana perasaan kita jika kita harus melihat binatang atau orang yang kita sukai menderita kelaparan sambil menunggu hari kematian. 4 halaman terakhir benar-benar menguras air mata, dan diakhiri dengan teriakan orang-orang yang berkumpul di sekeliling mayat gajah sambil menghadap ke langit “Hentikan perang…………. tolooooong hentikan perang”….

Satu kata, Kawaisou…kasihan.. Yang sebetulnya bukan hanya ditujukan untuk gajah-gajah itu, tapi untuk semua orang yang menderita karena perang. Betapa perang membuat hidup semua makhluk sia-sia. Buku ini dikarang oleh alm.Tsuchiya Yukio (cerita) dan alm.Takebe Motoichirou (gambar) ditulis tahun 1950 tetapi baru diterbitkan tahun 1970, dan sampai sekarang sudah dicetak 158 kali.
Photobucket

5 gagasan untuk “Gajah yang Malang

  1. Ersis Warmansyah Abbas

    Ya buku memang bisa mengharubiru … mencerdasakan, dan sumber segalanya. Tapi, adakalanya buku adalah guru yang bodoh. Misal, kalau ada pertanyaan, buku tidak bisa menjawab he he. Jadi, jadikan bacaan sebagai persiapa mejawab apa saja. Apa salah ya cara mikir saya?

    Memang buku kan guru satu arah… yang harus jawab adalah yang mambaca buku. Jelas tidak salah pak. bahkan ada juga buku yang membuat kita bodoh juga kok pak… buku manual misalnya kan mengurangi daya imaginasi dan kreatifitas pembacanya…hihihi.

    Balas
  2. nh18

    Emi …
    Adduhhh …
    Ceritanya simple banget …
    Namun dari kesederhanaanya itu muncul suatu pelajaran yang indah dan agung tak terkira …

    membaca postingan mu saja aku sudah terharu … bagaimana jika saya membaca sendiri cerita bergambar tersebut …

    Ahhh …
    Perang memang jahanam …

    Makasih Em …

    kembali mas… iya memang perang jahanam. karena itu buku ini dipilih sebagai buku wajib di perpustakaan. namun sebetulnya kata suami saya alasan gajah itu dibiarkan mati bukan supaya tidak “membuat keonaran” jika kena bom, tapi lebih karena alasan bahwa manusia banyak yang tidak bisa makan, kenapa makanan yang bisa untuk manusia diberikan ke binatang…. dillema ya.

    Balas
  3. krismariana

    mbak, aku sampai sekarang masih suka baca picture book. 😀 barangkali sedikit orang dewasa yang koleksi picture book. kalau lihat picture bagus, pengen rasanya beli. tapi aku mesti milih yang benar-benar aku pengin dan aku bisa belajar dari ceritanya, atau kalau bisa suatu saat nulis picture book. (duh, kapan yaaa?)

    menurutku, picture book itu tidak mesti buat anak-anak. karena ada picture book dengan cerita yang bisa dibaca orang dewasa, gambarnya juga garis-garisnya tidak kanak-kanak banget. (hmm, bingung menjelaskannya.)

    tapi aku rasa buku yang mbak imelda itu bagus. sampai cetak ulang sampai 158 kali gitu. pasti berharga banget, ya ceritanya. sayang aku nggak bisa bahasa jepang. kalau bisa, kan bisa ikutan baca 😀

    Balas
  4. andyhardiyanti

    Sedih ceritanya mbak 🙁
    Gimana kalau lihat langsung isi picture book itu, pasti makin kerasa sedihnya.
    Dulu aja pernah nonton video apa gitu di yutub bareng anak, dimana disitu ada gajah yang menitikkan airmata. Anak saya sampai ikutan sedih juga, padahal gak ngerti ceritanya.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *