Cuci Mata 目の保養

Cuci Mata 目の保養

Cuci mata secara harafiah memang aku sering. Apalagi sejak musim semi, banyak serbuk bunga yang beterbangan dan membuat alergi yang disebut Kafunsho. Kalau mata mulai gatal, terpaksa aku cuci dengan boor water.

Kalau cuci mata secara kiasan, yang artinya menghibur diri dengan melihat-lihat sesuatu yang bagus, mungkin jarang aku lakukan. Atau aku jarang bepergian ke tempat-tempat yang menurut orang muda itu bagus, misalnya harajuku atau ginza. “Ayo kita cuci mata ke Ginza… atau departement Store XXX” Bagiku bepergian ke shopping mall sama sekali bukan Cuci mata. Bukan selera aku mungkin ya. Kadang aku merasa diriku itu aneh. Bukan seperti wanita pada umumnya, aku tidak suka berlama-lama di departement store. Tapi, kalau suruh berlama-lama di akihabara atau pusat elektronik sih OK aja.

Nah, hari ini aku bisa cuci mata. Karena hari ini aku pergi ke Universitas Senshu untuk pelajaran pertama dalam musim semi tahun ini. Aku minta imel kecil untuk jaga Kai dan jemput riku, dan dia datang kemarin malam. So dari pagi aku udah tinggal siap-siap aja, print out bahan untuk kelas dasar dan kelas menengah. Yang paling nyebelin ngga tau harus siapin berapa copy. Kasih ganti baju riku, dan siap untuk berangkat eee dia muntah sampai dua kali dan emang badannya agak anget. Jadi aku putuskan lebih baik dia libur TK nya. Setelah telepon TK, aku siap-siap pergi. Dengan agak lega, karena imel berarti tinggal jaga anak-anak di rumah, tidak usah keluar rumah.

Sampai di stasiun mukogaoka yuen jam 10 teng. Yah berarti tidak keburu naik bus sekolah yang jam 10, harus berikutnya jam 10:15. Tapi ternyata aku slaah. Karena ada perubahan jam pelajaran (jam istirahat dimundurkan 5 menit, jadi yang mustinya berangkat 10:00 jadi berangkat 10:05… jadi mata ini mengantar kepergian bus yang 10:05 …sial juga. Lalu aku naik bus yang jam 12:20. Dari gedung 9 aku musti ke gedung 4, lalu siangnya harus kembali ke gedung 9 untuk rapat, lalu ngajar lagi di gedung 4…. hmmm bisa jadi diet ngga ya?

Kelas pertama adalah kelas menengah, pesertanya cuman 4 orang , mahasiswa pria…wahhh alamat banyak libur nih hehhehe. Lalu tengah-tengah pelajaran satu mahasiswi datang. Hmmm 5 orang? Mungkin nanti aku akan banyak belajar di ruang komputer aja deh.

Selesai jam pelajaran 12:15, langsung ke ruang sidang karena ada pertemuan dosen pengajar bahasa asing selain bhs inggris. Tumben juga kali ini disediakan makan siang berupa bentonya nasi. Tahun-tahun yang lewat cuman sandwich. Karena ruang pertemuannya jauh dari mana-mana tidak ada acara perkenalan sesama dosen. Buat aku no problem deh, soalnya sejak ruang guru pindah ke tempat yang baru, aku jarang berlama-lama di ruang guru. Ke ruang guru paling cuman untuk fotocopy dan buka internet.

Jam kedua kelas dasar. Agak berdebar-debar karena tidak ada bayangan akan berapa banyak orangnya. Aku cuma bikin copy untuk 35 orang. Ternyata cukup paling sekitar 25-30 orang. Dan… entah kenapa tahun ini pesertanya lumayan enak, bisa terima candaan aku dan mereka juga tidak malu-malu. Hmmm jadi semangat deh ngajarnya.

Yang aku maksud dengan cuci mata di sini sebetulnya lebih ke pemandangan dari gedung baru universitas. bener-bener kampusnya di atas bukit. rasanya langit itu luas sekali. Memang kompleks kampus disini luas juga dnegan 15 gedung. Selain itu yang cukup membuat aku heran yaitu adanya eskalator dalam gedung kampusnya…. kalau lift sudah biasa tapi eskalator? Harus punya ruang yang cukup. Dan tentu saja bisa dibayangkan juga biaya pembuatan dan pengoperasiannya. Universitas Senshu akan menyambut ulang tahun ke 130 tahun, sedangkan aku sendiri baru 9 tahun mengajar di sini. Boleh dikatakan universitas ini termasuk yang langka karena mengajarkan bahasa Indonesia sebagai bahasa asing kedua. Karena termasuk pelajaran wajib bagi beberapa fakultas, murid di sini juga rajin mengikuti kuliah karena kalau tidak lulus mata pelajaran bahasa Indonesia, tidak mendapat sks. Well, satu tahun ajaran baru… mudah-mudahan bisa berlangsung dnegan lancar.
Photobucket

2 Comments

Kenapa ya Bahasa Indonesianya jadi bahasa asing kedua mb EM? Apa dulunya banyak orang Indonesia/ orang Jepang yang pernah di Indonesia belajar di sini? Atau memang ada kerjasama erat dengan Indonesia? Menarik sekali

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Post navigation

  Next Post :
Previous Post :