Wish List

Bagi yang pernah berbelanja di Amazon, pasti tahu istilah wish list ini. Yaitu daftar barang-barang yang diincar untuk dimiliki. Tadi iseng-iseng browsing si situs bahasa Jepang, bertemu dengan laporan ini.

1. Harga HDD berkapasitas 1 TB sudah turun menjadi kurang dari 20.000 yen. Wow, 1 Terra byte harganya sekarang sama dengan HDD yang berkapasitas 160GB yang saya beli 3 tahun lalu. Penurunan harga dari 30.000 an menjadi 20.000-an kurang ini makan waktu setengah tahun. Semakin banyak peminat, semakin banyak pembeli maka harga akan turun. Waktu saya membeli laptop yang built in DVD player 8 tahun lalu, harganya sekitar 300 ribu yen, sekarang? berikut DVD Write sudah bisa 60 rb (Win XP). Computers sudah seperti kacang goreng saja. Dan diperkirakan perusahaan komputer akan bangkrut, karena sekarang orang Jepang lebih suka mengirim email dari handphone daripada memakai komputer di rumah yang jelas-jelas terbatas waktu pemakaiannya. Handphone di jepang juga sudah canggih sekali sih. Bahkan sekarang sudah bisa menjadi pengganti kartu kredit. Entah itu baik atau buruk, saya tidak berminat menonton TV di Handphone atau membayar dengan handphone.

大手価格比較サイト「価格.com」に掲載されている価格情報によると、WESTERN DIGITAL社製の1TB内蔵HDD「WD10EACS」が、2008年3月28日23:00現在で1万9799円と、2万円を割っています。

1TBHDDPhotobucket

ファンタ ふるふるシェイカー オレンジ (190ml缶/120円)のカロリーは100mlあたり69kcal】

2. Fanta orange….. Saya lebih suka minum fanta orange, dibandingkan dengan coca-cola. Dan sekarang ada Fanta orange jenis baru yang mengandung jelly yang bersoda. Sebelum membuka kaleng, dikocok dulu sehingga jelly utuh di dalamnya akan terburai dan waktu minum kita akan minum sekaligus potongan jelly yang berasa soda. hmmm mau coba ahhh. Dan katanya dari tanggal 21 April sampai 27 April di seluruh toko Mac Donald, jika membeli ayam shaka-shaka seharga 100 yen otomatis akan mendapat satu kaleng Fanta Orange ini. wow…cuman tunggu tanggal 21 April lama sekali ya…. (Info: Harga minuman kaleng di Jepang 120 yen, jika membeli di vending machine. Kalau membeli di toko grosiran mungkin bisa lebih murah.)

So apa 2 item ini masuk isi WishList saya? Fanta Orange dulu deh, soalnya belum merasa perlu beli 1TB. Nanti kalau yang 160GB udah megap-megap kembang-kempis minta diganti baru masukkan WishList saya.

Sense of Service

Membaca tulisan Pak Oemar Bakrie soal sense of service, saya ingin mengumpulkan cerita pengalaman menyangkut s.o.s itu yang saya masih ingat.

Memang masalah “sense of service” ini orang Indonesia harus belajar dari orang Jepang. Banyak sekali yang saya bisa ceritakan sebagai contoh, tapi salah satunya terjadi seminggu yang lalu. Saya terlambat mendaftarkan kembali anak saya untuk kelas sepak bola. Lalu guru sekolah Olahraga itu menelepon saya dan menanyakan soal itu (mungkin kalau ini pasti dilalukan juga oleh marketing Indonesia). Saya katakan “Anak saya akan melanjutkan latihan sepak bola dan sekaligus saya pesan baju OR nya”. Supaya jangan terjadi kesalahan sang guru minta supaya saya mengirimkan fax orderan baju OR. Ada 3 item seharga 12.000 yen atau bisa juga hanya membeli celana pendeknya seharga 3.900 yen. Karena anak saya ingin punya baju atasannya juga, maka saya pesan 3 item. Fax…. dan tidak lama lagi sang guru telepon,

“Apakah benar mau 3 item, teman-teman Riku (anak saya) semua hanya membeli celana pendek saja. Kalau Ibu mau bisa diubah (menjadi celana saja)”. Saya katakan”tidak apa, tetap 3 item karena itu menjadi kenang-kenangan kalau dia lulus TK”. Di sinilah yang saya anggap sense of service orang Jepang top. Dia akan memikirkan konsumen bukan pihaknya. Kalau kejadian ini di Indonesia, pasti saya tidak akan dapat telepon, atau si guru pasti tidak akan beritahu bahwa teman-teman yang lain hanya membeli celana saja.

Pengalaman yang lain, waktu saya memesan barang keperluan rumah tangga di Koperasi via internet. Saya memesan satu plastik tissue kotak (isi 5 kotak). Waktu diantarkan ke rumah saya lihat memang ada secarik kertas ketikan yang ditempelkan ke situ, tapi saya tidak curiga apa-apa. Waktu kotak tissue tinggal 2 buah, saya mau membuang plastiknya, baru ketahuan bahwa kertas itu berisi pernyataan maaf. Saya baca lebih detil, ternyata seharusnya tissue yang saya pesan satu kotaknya berisi 180 lebar (two ply), tetapi yang diantarkan hanya berisi 168 lembar, jadi kurang 12 lembar setiap kotaknya (12×5 = 60 lembar). Dan untuk itu pihak koperasi mengurangi harga tissue tersebut sebesar 18 yen. Duuuh, saya juga tidak ingat, atau tepatnya tidak membaca dengan teliti seharusnya ada berapa lembar tissue dalam satu kotak. Seandainya pihak koperasi tidak menulis itu juga pembeli tidak akan sadar/ tahu. Kalau di Indonesia sudah pasti tidak ada pemberitahuan seperti begini (kesannya apatis sekali ya?)

Pembeli adalah Raja, benar-benar diterapkan di sini. Bukan hanya slogan belaka.